3N

pergi haji…wow…siapa sih yang nggak kepingin…bahkan yang sudah pernah ke sana juga pingin ke sana lagi…

banyak cara orang pergi ke sana…tapi banyak cara juga orang untuk tidak ke sana…

kalo kata ustad Ahmad Humaidi dalam salah satu pengajiannya bilang….naik haji itu selalu terkait dengan 3 N,

Niat, nishob dan Nasib ( serius dikit yak…)

niat…hem…emang letaknya ada di hati…setiap orang pasti niat ke haji…tapi sekuat apakah niatnya itu….

niat itu sebetulnya bukan cuma di hati saja loh…karena yang namanya niat itu bener-bener harus ada tindakan untuk menunjukkan ke-sungguh2-an…soalnya kalo cuma dalam hati saja namanya bukan niat…tapi AZZAM ( keinginan…).

Nah tentang kesungguhan niat ini aku punya kisah yang semoga bisa menjadi ibroh buat kita…

hari itu tanggal 9 zulhijah…

semua orang yang pergi haji selalu menunggu tanggal ini…

karena di sinilah puncak-puncaknya ibadah haji…

kita semua jamaah haji melakukan wukuf di Arofah…di hari itulah…pintu langit di buka…pintu maaf…di buka…pintu magfiroh di buka…

semua air mata juga tercurah di sini….

betapa para hamba ini merasa tak berdaya dengan segala dosa…tak kuasa dengan segala khilaf…

aku membayangnya betapa sibuknya langit…menerima doa-doa kita…

ba’da ashar…intensitas berdoa kami mulai berkurang…kulihat semua mata basah…melihat yang lain menangis tak urung terbawa haru juga…

aku bersama suami memutuskan keluar dari tenda…

aku ingin…langsung menatap langit…tatkala berdoa…

kami berjalan menyusuri tenda-tenda yang ada di arafah…kulihat banyak juga yang berdoa di luar tenda…

semua menatap langit…berdoa kepada sang kholik…

kulihat sebuat tempat yang kosong…di bawah sebuah pohon kami hamparkan tikar …

sebuah padang gersang ada di depan kami…meski terhalang pagar tapi…cukup membuat suasana…betapa kita ini kecil di hadapan Robb sang pengusa bumi dan langit…

dan doa demi doapun kami lantunkan…bersama….di sini kupanjatkan doa khusus untuk kami berdua dan anak keturunan kami…

di dalam isakan tangis kami…kami mendengar isakan tangis yang lain…dan

selepas doa-doa kami…serempak kami tolehkan wajah kami ke arah suara isakan tadi…

seorang bapak tua…dengan guratan-guratan keras di wajah yang menunjukkan bahwa kehidupannya juga keras…..air mata masih mengalir di pipinya…dan beliaupun memandang kami…sibuk mengusap air mata dan  hidungnya…

spontan suamiku mengulurkan tangannya…

nama saya johni pak dari bandung…bapak dari mana?

“nama saya…Ummar”

dan seolah mengerti bahasa tubuh kami…tanpa kami bertanya ia pun ikut menjelaskan…

saya dari  loksoumawe Aceh…e…saya menangis dek…bukan karena saya sedih…tapi karena saya bersyukur…saya bisa sampai di sini….

sambil menerawang jauh ia pun mulai menceritakan kisahnya …

26 tahun lamanya kami menabung…rupiah demi rupiah kami kumpulkan…

kami hanyalah pedagang kaki lima…setiap hari saya menjual buah-buahan di pinggir jalan..(subhanalloh…sahut kami bersamaan)

sebagian keuntungan kami…kami pergunakan untuk membiayai hidup kami dengan ke 3 anak kami…

sebagian lagi benar-benar kami tabungkan untuk kami pergi haji…

banyak keinginan yang harus kami tahan…

biarlah hidup sederhana…asalkan cita-cita kami bisa tersampaikan…

ujian demi ujian juga datang menghampiri kami…seolah…Alloh ingin menguji sejauh mana niatan kami…bahkan sampai 1 minggu sebelum keberangkatan kami pun masih menerima ujian..

lapak kami…tempat kami bejualan buah selama bertahun-tehun di gusur dek…di porak porandakan oleh satpol pp (maaf ya…bapak petugas…)

semua…modal kami ludes….(bergetar bibirnya…)

di hari hari itu sebetulnya kami ingin mengumpulkan rupiah lagi…yah…mungkin labanya bisa untuk bekal kami selama di sini…tapi Alloh mungkin punya rencana lain dek…rencana yang menurutNya lebih indah untuk kami…

kami hanya bisa pasrah…semoga Alloh menggantinya dengan yang lebih baik…

ternyata dek…

Alhamdulillah …kami warga aceh banyak di tolong oleh para pendahulu kita yang sudah lebih dahulu tinggal di sini…

kami ada pemukiman khusus orang aceh…sehingga uang hotel dari pemerintah sebesar 2.800 real di kembalikan…

di tambah uang living cost 1500… total kami berdua mendapat 8.600 real plus uang saku dari mukimin aceh untuk kami 150 real per orang…jadi kami  sekarang punya 8900 real (dalam rupiah sekitar 21 jutaan)

he…he…sebagai orang bisnis… saat itu otakku langsung bekerja mengkalkulasikan…berapa rupiah bisa kita hemat jika pemerintah Indonesia mau belajar pada orang-orang Aceh…membangun apartemen khusus untuk orang Indonesia…

kembali ke niat…inilah sekelumit contoh kisah yang memang menunjukkan kegigihan niat…niat itulah yang membuatnya menjadi orang yang kuat dan ulet…

selain niat…orang yang pergi haji juga terkadang di sebabkan karena Nishob…

kalo nishop ini sudah tak ada perselisihan…

kalo orang yang sudah mampu…kebutuhan primer sudah terpenuhi (sandang, pangan dan papan) bahkan plus kendaraan sudah punya …maka menjadi  wajiblah jadinya mereka untuk pergi haji….

meski pada prakteknya banyak juga yang beralasan “ah…pergi hajinya ntar aja…belum di panggil”

padahal kalo mereka mau sebentar…saja membuka Alquran…(QS. al hajj : 27)..ntar pada di buka yah….

bahwa Alloh itu menyeru kita semua manusia untuk pergi haji…jadi sebetulnya…kita semua nih…sudah di panggil..bahkan jauh sebelum kita di lahirkan….tinggal kita aja..meresponnya cepat atau malah pura-pura tuli….

o.k. kita lanjut…N yang ke tiga adalah Nasib….

terkadang memang ada orang yang niat tapi nishob alias hartanya belum ada…hanya karena Nasib…(takdir dan rahmat Alloh SWT) maka jadilah ia berangkat…

contohnya  pernah aku baca di sebua majalah Islam terkemuka Hidayatulloh…

ceritannya begini…

di kisahkan…ada sepasang suami istri bernama Asep dan Asih. Mereka selalu menghiasi hidup mereka  dengan  Bersyukur atas segala nikmat yang mereka terima, dan bersabar atas segala ujian yang diberikan.

meski hidup mereka sangat jauh jika di bilang cukup…tapi mereka tak pernah berpangku tangan…setiap hari mereka berusaha membuka toko kelontong  mereka…menyapa pelanggan dan melayani mereka dengan ramah….

mereka selalu berdoa…agar..dagangan mereka hari itu di lancarkan…sehingga tabungan mereka akan bertambah…

yah…mereka ingin pergi ke tanah suci…

Hampir dua puluh tahun mereka menabung …bukan waktu yang singkat…dan juga bukan sebuah perkara yang mudah…apa lagi di zaman yang serba konsumeris spt sekarang ini….

ujian selalu Ada…karena Alloh selalu menguji …untuk mencari hambanya yang mempunyai Ahsanu amala…

dan justru karena  ujian itulah kisah ini ada..

Malam itu, Asep dan Asih sekali lagi menghitung jumlah tabungan mereka. Uang yang mereka simpan untuk berhaji itu kini berjumlah Rp. 50.830.000. mereka tersenyum..hmm…tampaknya kurang sedikit lagi tabungan mereka agar bisa berangkat berdua…

hingga pada suatu pagi, Asep mendengar kabar bahwa tetangganya pak Endhi yang biasa berjamaah shalat di Masjid As Shabirin jatuh sakit secara mendadak dan kini dirawat di RS. Dr. Hasan Sadikin. Setelah divisum oleh dokter rupanya penyakit yang diderita tetangga sekaligus kawan karibnya itu adalah penyakit tumor tulang. Sebuah penyakit yang jarang terjadi pada masyarakat Indonesia.

sore itu Asep ke rumah sakit menjenguk pak endhi.. Sesampainya di sana,ternyata pak Endhi tersebut masih berada di ruang ICU

dan untungnya masih sadarkan diri sehingga dapat melakukan percakapan dengan Asep. Dari penuturannya Asep mengetahui bahwa tumor tulang tersebut telah membuat tetangganya tidak mampu untuk berdiri lagi, dan tumor tersebut harus diangkat segera. Sebab bila tidak, maka tumor tersebut dapat menjalar ke bagian tubuh lain. Asep bergidik mendengarnya. Namun ia masih terus membesarkan hati sahabatnya itu untuk senantiasa tawakkal dan berdoa kepada Allah Swt Yang Maha Menyembuhkan setiap penyakit hamba-Nya.

Hampir setiap hari Asep menjenguk sahabatnya itu. Pada hari kedelapan, sahabatnya itu telah dipindah ke ruang rawat inap kelas 3, bersama tujuh pasien lainnya dalam satu kamar. Kamar tersebut pengap dengan bau obat, dan tidak layak disebut sebagai kamar rumah sakit. Pemandangan yang berantakan. Jemuran baju pasien dan pendamping yang bertebaran di sepanjang jendela. Seprai kasur yang tidak rapi. Tikar dan koran bertebaran di pojok-pojok kamar. Itu semua membuat pemandangan kamar menjadi tidak asri dan pengap. Namun apa mau dikata, tetangganya adalah seorang yang mungkin memiliki nasib sama dengan jutaan orang di Indonesia. Sudah masuk rumah sakit saja Alhamdulillah, nggak tahu bayarnya pakai apa?

Hari itu adalah hari kesebelas sahabatnya dirawat di rumah sakit. Kebetulan Asep sedang berada di sana, seorang perawat membawakan sebuah surat dari rumah sakit bahwa untuk membuang tumor yang berada di sendi-sendi tulang pasien haruslah dijalankan sebuah operasi. Operasi itu akan menelan biaya hampir Rp 50 juta. Bila keluarga pasien mengharapkan kesembuhan, maka operasi tersebut harus dilakukan. Namun kalau mau berpasrah kepada takdir Tuhan, maka tinggal berdoa saja agar terjadi keajaiban.

Siapa orangnya yang tidak mau sembuh dari penyakit? Semua orang pun berharap sedemikian. Namun mau bilang apa? Keluarga sahabat Asep tersebut sudah menguras habis tabungan yang mereka miliki, namun itu semua untuk bayar biaya rumah sakit selama ini saja tidak cukup. Apalagi untuk membiayai proses operasi? Sungguh, yang mampu mereka lakukan adalah memohon pertolongan kepada Allah Swt.

Hari kedua belas, ketiga belas, keempat belas…. kondisi pasien semakin parah. Badannya terlihat kurus tak bertenaga. Kelemahan itu terlihat jelas dalam sorot cahaya mata yang kian meredup. Sang pasien tidak mampu lagi menanggapi lawan bicara. Tumor itu semakin mengganas dan menjalar ke seluruh tubuh. Pemandangan itu semakin menyentuh relung hati Asep yang terdalam. Maka di pinggir ranjang sahabatnya, Asep pun mengambil sebuah keputusan besar.

Setelah berpamitan dengan keluarga sahabatnya, ia bergegas pulang menuju rumah. Di sana terlihat olehnya Asih sedang melayani pembeli yang datang ke toko sederhana milik mereka. Saat pembeli sudah sepi, Asep lalu menyampaikan keputusannya itu kepada Asih.

“Bu…, Kang Endi tetangga kita yang sedang di rawat di rumah sakit itu kondisinya semakin memburuk. Bapak tidak sanggup melihat penderitaannya. Sepertinya kita harus bantu dia dan keluarganya. Tiga hari lalu, kebetulan bapak sedang di sana, seorang suster memberitahukan bahwa Kang Endi harus dioperasi segera. Keluarganya belum berani menyatakan iya, sebab biaya operasi itu hampir Rp 50 juta….” Asep membuka pembicaraannya dengan kalimat yang panjang.

Asih pun mulai merasa iba dengan penderitaan Kang Endi dan keluarganya, “Kasihan mereka ya, Pak! Kita bisa bantu apa…?” Asep pun langsung menyambung dengan cepat, “Kalau ibu berkenan, bagaimana bila dana tabungan haji kita diberikan saja kepada mereka semua untuk biaya operasi?” Kalimat itu diakhiri dengan sebuah senyum merekah di bibir Asep.

“Diberikan.. . .?!! Waduh pak…, hampir dua puluh tahun kita nabung dengan susah payah agar cita-cita berhaji dapat diwujudkan. Masa bisa pupus seketika dengan membantu orang lain yang bukan saudara kita?” Asih mengajukan penolakan atas usulan suaminya.

“Bu…., banyak orang yang berhaji belum tentu mabrur di sisi Allah. Mungkin ini adalah jalan buat kita untuk meraih keridhaan Allah Swt. Biarkan kita hanya berhaji di pekarangan rumah kita sendiri, tidak perlu ke Baitullah. Bapak yakin bila kita menolong saudara kita, Insya Allah, kita akan ditolong juga oleh Dia Yang Maha Kuasa.”

Kalimat itu meluncur dari mulut Asep dan menohok relung hati Asih sehingga begitu membekas di dasarnya. Tak kuasa, Asih pun mengangguk dan setuju atas usul suaminya.

Keesokan pagi, Asep dan Asih pun datang berdua ke rumah sakit untuk menjenguk.

Toko mereka ditutup hari itu. Mereka berdua datang ke rumah sakit dengan membawa sebuah amplop tebal berisikan uang sejumlah Rp 50 juta yang tadinya mereka siapkan untuk berhaji. Keduanya tiba di rumah sakit dan menjumpai Kang Endi dan keluarganya di sana. Usai membacakan doa untuk pasien, keduanya datang kepada istri Kang Endi. Mereka serahkan sejumlah uang tersebut, dan suasana menjadi haru seketika. Bagi keluarga Kang Endi ini adalah moment dimana doa diijabah oleh Tuhan. Sementara bagi Asep dan Asih, ini merupakan saat dimana keikhlasan menolong saudara harus ditunjukkan.

Lalu pulanglah Asep dan Asih ke rumah setelah berpamitan kepada keluarga pak Endi.

Uang itu kemudian segera dibawa oleh salah seorang anggota keluarga ke bagian administrasi rumah sakit. Formulir kesediaan menjalani operasi telah diisi. Besok pagi jam 08.00 operasi pengangkatan tumor di sendi-sendi tulang Kang Endi akan dilakukan.Alhamdulillah!

Esoknya Kang Endi sudah dibawa ke ruang operasi. Sebelum dioperasi, dokter spesialis tulang yang selama ini menangani Kang Endi sempat berbincang dengan keluarga. “Doakan ya agar operasi berjalan lancar dan Pak Endi semoga lekas sembuh! Kalau boleh tahu…, darimana dana operasi ini didapat?” Dokter mencetuskan pertanyaan tersebut, karena ia tahu sudah berhari-hari pasien tidak jadi dioperasi sebab keluarga tidak mampu menyediakan dananya.

Istri Kang Endi menjawab, “Ada seorang tetangga kami bernama pak Asep yang membantu, Alhamdulillah dananya bisa didapat, Dok!”

“Memangnya, beliau usaha apa? Kok mau membantu dana hingga sebesar itu?” Dibenak dokter, pastilah pak Asep adalah seorang pengusaha sukses.

“Dia hanya punya usaha toko kecil di dekat rumah kami. Saya saja sempat bingung saat dia dan istrinya memberikan bantuan sebesar itu!” Istri Kang Endi menambahkan.

Di dalam hati, dokter kagum dengan pengorbanan pak Asep dan istrinya. Hatinya mulai tergerak dan berkata,”Seorang pak Asep yang hanya punya toko kecil saja mampu membantu saudaranya. Kamu yang seorang dokter spesialis dan kaya raya, tidak tergerak untuk membantu sesama.” Suara hati itu terus membekas dalam dada pak dokter. Pembicaraan itu usai, dan dokter pun masuk ke ruang operasi.

Alhamdulillah operasi berjalan sukses dan lancar. Ia memakan waktu hingga 4 jam lebih. Semua tumor yang berada pada tulang Kang Endi telah diangkat. Seluruh keluarga termasuk dokter dan perawat yang menangani merasa gembira. Kang Endi tinggal menjalani masa penyembuhan pasca operasi. Pak Asep masih sering menjenguknya.

Suatu hari kebetulan pak dokter sedang memeriksa kondisi Kang Endi dan pak Asep pun sedang berada di sana. Keduanya pun berkenalan. Pak dokter memuji keluasan hati pak Asep. Pak Asep hanya mampu mengembalikan pujian itu kepada Pemiliknya, yaitu Allah Swt.

Hingga akhirnya, pak dokter meminta alamat rumah pak Asep secara tiba-tiba.

Beberapa minggu setelah Kang Endi pulang dari rumah sakit…

Malam itu, Asep dan Asih tengah berada di rumahnya. Toko belum lagi ditutup, tiba-tiba ada sebuah mobil sedan hitam diparkir di luar pagar rumah. Nampak ada sepasang pria dan wanita turun dari mobil tersebut. Cahaya lampu tak mampu menyorot wajah keduanya yang kini datang mengarah ke rumah pak Asep.

Begitu mendekat, tahulah pak Asep bahwa pria yang datang adalah pak dokter yang pernah merawat sahabatnya kemarin. Gemuruh suasana hati Asep. Ia terlihat kikuk saat menerima kehadiran pak dokter bersama istrinya. Terus terang, seumur hidup, pak Asep belum pernah menerima tamu agung seperti malam ini.

Maka dokter dan istrinya dipersilakan masuk. Setelah disuguhi sajian ala kadarnya, maka mereka berempat terlibat dalam pembicaraan hangat. Tidak lama pembicaraan kedua keluarga itu berlangsung. Hingga saat pak Asep menanyakan maksud kedatangan pak dokter dan istri. Maka pak dokter menjawab bahwa ia datang hanya untuk bersilaturrahmi kepada pak Asep dan istri. Pak dokter menyatakan bahwa ia terharu dengan pengorbanan pak Asep dan istri yang telah rela membantu tetangganya yang sakit dan memerlukan dana cukup besar. Ia datang bersilaturrahmi ke rumah pak Asep hanya untuk mengetahui kondisi pak Asep dan belajar cara ikhlas membantu orang lain yang sulit ditemukan di bangku kuliah. Semua kalimat yang diucapkan oleh pak dokter dielak oleh pak Asep dengan bahasa yang selalu merendah.

Tiba saat pak dokter berujar, “Pak Asep dan ibu…., saya dan istri berniat untuk melakukan haji tahun depan. Saya mohon doa bapak dan ibu agar perjalanan kami dimudahkan Allah Swt… Saya yakin doa orang-orang shaleh seperti bapak dan ibu akan dikabul oleh Allah…”

Baik Asep dan Asih menjawab serentak dengan kalimat, “Amien…!”

Pak dokter menambahkan, “Selain itu, biar doa bapak dan ibu semakin dikabul oleh Allah untuk saya dan istri, ada baiknya bila bapak dan ibu berdoanya di tempat-tempat mustajab di kota suci Mekkah dan Madinah…”

Kalimat yang diucapkan pak dokter kali ini sama-sama membuat bingung Asep dan Asih sehingga membuat mereka berani  menanyakan,

“Maksud pak dokter….?”

“Ehm…, maksud saya, izinkan saya dan istri mengajak bapak dan ibu Asep untuk berhaji bersama kami dan berdoa di sana sehingga Allah akan mengabulkan doa kita semua!”

subhanalloh…tidak ada yang tidak mungkin bukan…asal ada niat di situ aja jalan….

Waalu hu alam bi showab…semoga kita termasuk orang yang bersegera menjawab panggilan Nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s