Ta’at

he…he…maaf ..agak serius dikit nih mulainya…

taat itu artinmya tunduk…patuh…tidak membantah..dll

bagi kita seorang istri…ketaatan kepada suami sepertinya suatu harga yang mutlak…betul tidak ? (di bacanya logat A A Gym Ya…)

Karena Baginda Rosululloh saw sendiri pernah bersabda :”seandainya di perbolehkan seorang manusia menyembah manusia yang lain…maka akan aku perintahkan seorang istri untuk menyembah suaminya…)

he…he…Syukur alhamdulillah untuk ini….

coba kalian fikir…apa jadinya rumah tangga kita kalo ternyata Alloh membolehkan untuk menyembah suami…hi…mungkin akan banyak KDRT ya….

Ehmmm yang ingin aku tulish sebenarnya masih juga berhubungan dengan tingkah laku para jamaah haji…

terutama mereka yang datang berpasangan dengan suaminya…

kisah ini benar benar true story…

di kisahkan oleh seorang teman kepadaku sebagai bekal keberangkatan…

he…he…sepertinya sih…supaya aku juga di sono di tanah suci jadi lebih taat…:)

waktu itu ( sekitar 17 tahun yang lalu) sebut saja namanya Ratna…pengantin baru…selayaknya pengantin baru apa lagi bagi pasangan yang sebelumnya tidak pacaran ini…tentu saja mereka berdua belum saling memahami satu dengan yang lain..

bahasa jawanya mah masih ewuh pekewuh…

Pergi haji adalah hadiah atas pernikahan mereka berdua…

jadilah mereka berangkat berempat ( plus ayah dan ibu dari Ratna)

Mereka berempat sebetulnya

juga masih penjajakan…terutama peran mereka kini yang sudah mulai berubah dari sebelumnya…baik sebagai i istri, suami mertua dan menantu.

karena masih adaptasi itulah maka kisah ini menjadi berhikmah buat kita…

Sang Mamah merasa…meski anaknya sudah bersuami…tapi dalam benaknya ia masih merasa putrinya ini masih anaknya yang dulu…yang harus ia jaga….jadi kemana-mana…maunya ia lindungi…

Ratna sendiri…meski usianya waktu itukurang dari 20 thn…tapi merasa ia sudah menikah nih…jadi udah lah…gak usah di kutit terus sama mamah…pinginnya berdua…kan pengantin baru…tapi…bagaimana caranya yah…ia bisa lepas dari kutitan mamah…(Hm…sambil mikir…)

sementara suami ratna…namanya juga menantu baru…he…he…masih ja im lah…jadi lebih banyak Diam…katanya sih kalo urang yang pendiam itu lebih berwibawa…

Siang itu…

umumnya suasana Madinah,

setiap hari…selesai sholat biasanya di luar masjid selalu ada kegiatan ekonomi…

kalo di Indonesia suasana seprti pasar tiban atau pasar kaget…di sepanjang jalan sangat banyak pedagang menjual barang dagangan mereka…dari AlQuran, sajadah, Qurma, kerudung, baju……sampai ke mainan anak-anak juga ada…

he…he…ini godaan tersendiri loh…bagi kaum wanita …

makanya…harus banyak-banyak tawudz deh…meski baru pulang dari masjid…

karena menurutku…godaan ini sangat luarrr biasa…terutama godaan mata dan godaan kantong…:)

Meminjam istilah Miss shoping…”wanita kalo gak suka belanja…pasti ada yang salah tuh wanita…perlu di periksa ke psikiater…”

Nah…Rupanya…ini juga di alami ratna temanku itu…

setiap pulang dari masjid..matanya hampir selalu menyapu bersih tiap tiap pedagang…sambil memikirkan…ah..ntar beli ini buat si anu-anu dan anu…terkadang terlihat senyum simpul tersungging di sudut bibirnya…

“ntar malem mau ngomong ah ke akang…”

Yang terjadi ternyata sungguh di luar dugaanya…

Apa daya…belum sempat ia meminta ijin dari suaminya…

Eh…suaminya sudah bilang…”Neng…kalo ke masjid…bawa uangnya seprlunya aja yah…di hemat hemat…kita di sini masih lama…belanja mah nanti aja kalo pas kita ke mekah kalo sudah mau pulang…di mekah juga barngnya bagus-bagus kok…sama seperti di sini..lagian nanti…kita kan bener-bener sudah tahu…uang yang tersisa itu berapa….”

Ratna terdiam…punah sudah harapanku (pikirnya…)

hiks…namanya juga pengantin baru…jelas…gak bisa membantah…

tapi…hiks…barang-barang itu selalu menari-nari di benaknya…terbayang suka cita shahabat teman yang pasti suka dengan hadiah yang akan ia berikan..batinnya berkecamuk….ah…sabar…mentaati suami lebih penting…

tapi…bagaimana ya…jika ternyata pas di mekah nanti tidak ada barang seperti yang ia lihat kemaren…wah…cilaka atuh…

beli…tidak…beli…tidak…ah…beli aja…toh nanti juga kalo sudah kebeli akang gak akan marah…kan pengantin baru…mak nyak…pengantin baru marah-marah 🙂

tak kurang akal…diam-diam…pas malem-malem dia mulai menyusun rencana jitu…

Bismillah…ia masukkan lembaran-lembaran uang ratusan real ke dalam lembaran-lembaran mushaff al qur’an…kebetulan pula….katanya Mushaff yang ia punya bentuknya mirip dompet…

Jadi…Hmmm sipp!!!…aman lah…

sekarang tinggal memikirkan bagaimana caranya supaya dia bisa bebas belanja…tanpa gamgguan siapapun..hatta mamah sekalipun…

kalo akang mah…amanlah…pan di masjid Nabawi lelaki dan perempuan terpisah…akang pasti akan mengira aku selalu bersama mamah…jadi…

langkah selanjutnya adalah bilang sama mamah.!!!..

Siang itu pelan tapi pasti sehabis sholat, Ratna meminta ijin dulu ke mamahnya…

mah…Nanti Ratna teh mau jalan sama akang yah…mamah pulang dulu aja…

Sang mamah pun menagguk pelan sambil tersenyum penuh arti…yah…sekali-kali ngasih kesempatan si eneng berdua lah sama suaminya….

Subhanalloh…sepertinya doaku di kabul…pikir Ratna…

habis.. mamah tumben tumbenan gak kepingin ikut….(batin Ratna)

Alhamdulillah…rencana lancar…

sekarang ngaji dulu aja…

sembari mengeluarkan Al Qur an sembari ia pingin ngecek apakah uang yang semalam ia msukan masih aman?

ia buka pelan-pelan resleting penutup Al Qur an…hi…hi…jangan sampai kelihatan mamah…

di liriknya mamah yang masih kusyuk membaca Al Qur an di sebelahnya….

tapi…ups….

Astagfirullah…

kemana uangnya ya…kok nggak ada…padahal tadi malam sudah aku selip selipkan uangnya di sini…

ke mana uang ku ya….?

(PANIK!!!)

Ratna mulai membongkar isi tasnya…

Astagfirulloh….kok gak ada..

mustahil di copet…kalo di copet pasti semuanya..sama Al qur’annya juga …

Bibirnya mulai memucat…AC masjid nabawi yang super Cool itu sudah tak berpengaruh lagi dalam tubuhnya…terbukti…keringatnya mulai keluar..

Ya Alloh…di mana uang ku ya…

padahal itu mah uang living cost…yang harus ia hemat hemat…

bagaimana aku harus menceritaknnya sama akang yah…

wah…malu aku…apa kata akang…baru juga di manahin uang 1500 real sudah hilang…

Astagfirulloh….

di dalam kepanikannya…

Getaran-getaran keimanan pun mulai menyusup ke dalam Qalbunya…

butiran-butiran air mata mulai mengalir di pipinya…

Ratna mulai menyadari sebuah teguran telah Alloh tujukkan kepadanya…

Astagfirulloh ya Robb…maafkan hamba…hamba tahu…ketaatan seorang istri ke pada suami…selama tidak menyuruh kepada kemungkaran adalah hal yang mutlak…ampuni hamba ya Robb…kepadamullah hamba mohon ampun…jika tidak engkau beri ampun…hamba tidak tahu…hendak ke mana lagi kah hamba mohon ampun…

terisak tangisnya…hingga membuat sang mamah yang berapa di sampingnya pun mulai terusik…

“Kunaon neng?” (ada apa neng) tanyanya sembari mengelus pundak putrinya…

Feelingnya sebagai seorang ibu merasa bahwa sesuatu terjadi pada anaknya…tak biasanya ia melihat sang putri tersedu sedan seperti itu…

hue…hue…tak kuasa ratna menahan tangis di pelukan mamahnya…

justru tangisnya saat itu semakin keras…

Dalam hatinya meluncur doa-doa

Ya Alloh…terima kasih…engkau telah menegurku…

hamba pantas menerima teguran ini…

bagaimana tidak…dalam satu malam hamba telah menghianati kepercayaan dua orang sekaligus…suami dan ibuku…

Aya masalah? tanya sang mamah lagi penuh selidik

Cerita atuh neng ke mamah…siapa tahu mamah bisa bantu…

sepertinya sarf kesedihan ratna sudah kena…jadi si tangisan teh susah di hentikan…

sekuat tenaga Ratna berusaha menghentikan tangisnya…sambil sesekali beristiogfar…

di tengah-tengah sesenggukan tangisnya ia mulai bercerita tentang sejarah sampai uangnya hilang…

dan subhanalloh…tanpa ba-bi-bu

sang mamah pun langsung membuka tasnya dan menyelipkan beberapa lembar uang ke pada putrinya tercinta..

“Sudah—sudah…tidak apa-apa…yang terjadi itu sudah bagian dari takdir…Alhamdulillah eneng sadar…ini uang buat ganti yang hilang…gak usah cerita ke si akang…ngke we ceritana pami tos dugi ka tanah air…”(nanti saja ceritanya kalo sudah sampai ke tanah air)

bukannya diam eh…ratna malah justru semakin menangis…

ia peluk mamahnya..

“maafkan saya ya mah…saya juga merasa bersalah sama mamah…maksud neng mah…. pingin neng teh mandiri…neng merasa sudah berumah tangga…jadi pingin lepas dari mamah…eh…sekarang..ujung-ujungnya mamah juga yang repot…

maafkan neng ya mah…

Sang mamahpun…memandang putrinya dengan lembut..ia tak menyangka…putrinya punya keinginan seperti itu….ia mengerti sekarang…putrinya sudah tak seperti dulu lagi…putrinya kini sudah punya sandaran hidup yang bisa membimbing putrinya…Putrinya kini sudah punya suami tempatnya bergantung..

dan dengan lembut pula ia berkata…

“yah…sudah..mamah juga minta maaf…habis…neng tidak pernah bilang ke mamah…jadi mamah juga hilap…mamah mah masih suka ngerasa kalo kamu teh masih neng mamah yang dulu…” katanya sambil memeluk ratna…ia ingin mengalirka energi kasih sayangnya agar putri terkasihnya tenang…

dan berdua merekapun berpelukan…saling menyeka air mata yang tak terasa mengalir dari sudut mata mereka…

semoga kita bisa mengambil ibrohnya…

La to’ati makhuqi fii ma’syiatillah”

tidak ada ketaatan terhadap makhuk dalam bermaksiat kepada Alloh…

WallAHU ‘Alam bi showab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s