Pemimpin Berkarakter Pahlawan

Setiap masyarakat memerlu-kan  sosok  pemimpin.   la diperlukan   untuk   mengarahkan orang-orang atau rakyat yang dipimpin pada situasi  dan  kondisi yang lebih baik dan menghindarkan degradasi. Terutama dalam masyarakat feodal baik buruk keadaan, bisa dikatakan sangat ditentukan oleh pemimpin

Seorang pemimpin formal memiliki daya besar untuk mengarahkan rakyat,  karena kepemimpinan formal melahirkan kewenangan yang ditopang berbagai macam fasilitas dan perangkat, termasuk perangkat yang bisa digunakan untuk memaksa rakyat, berupa aturan hokum dan aparat penegaknya. Dengan kata lain, pemimpin formal sesungguhnya bisa menggunakan kekuasaan yang ada padanya secara lebih efektif karena menguasai mekanisme hukuman.

Namun, untuk bisa memperoleh ke-berhasilan besar dalam menciptakan perbaikan, pemimpin tidak bisa hanya mengandalkan kewenangan formal, me-lainkan harus menambahkan keteladanan sebagai sarana yang bisa menginspirasi rakyat untuk bekerja bersama-sama. Dalam konteks ini, memimpin adalah menginspirasi.

Inspirasi itulah yang menjadi kekuat-an untuk menggerakkan rakyat agar mau melakukan sesuatu yarig bermanfaat. Dan, untuk itu, diperlukan daya upaya yang melebihi daya upaya yang bisa atau biasanya dilakukan oleh kebanyakan orang. Dalam konteks ini, kepemimpinan sesungguhnya adalah sarana untuk mem­berikan pengorbanan kepada rakyat, bukan sebaliknya.

Karena harus memberikan daya upaya lebih maka memimpin sesungguhnya ada­lah memberikan pengorbanan. Pengor­banan itulah yang diberikan oleh para pahlawan. Mereka melakukan apa saja, baik pikiran, tenaga, juga sampai nyawa untuk negara.

Pemimpin pahlawan adalah pemimpin yang mampu melampaui dirinya sendiri, karakter ini sangat diperlukan agar kepemimpinan tidak dijadikan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri. Justru, kepemimpinan harus dijadikan sarana untuk membuat ka-pasitas diri bisa dioptimalisasikan untuk memberikan pelayanan kepada orang lain.

Para pemimpin pahlawan lebih ba-nyak memikirkan orang lain daripada memikirkan diri sendiri dengan berpikir” besar untuk memberikannya kepada banyak orang, tanpa membeda-bedakan antara rakyat yang memiliki hubungan darah maupun yang tidak. Dan, tentu saja, dalam konteks untuk memberikan keteladanan dan inspirasi, pemimpin pahlawan harus mendorong anggota keluarga agar bisa memberikan contoh-contoh terbaik sebagai sarana inspirasi rakyat kebanyakan.

Mendapatkan pemimpin dengan ka-rakter pahlawan, tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Diperlukan upaya-upaya serius dari berbagai pihak untuk melahirkannya. Pada sistem de-mokrasi, rakyat memiliki peran yang sangat besar untuk memilih pemimpin,

Rakyatlah yang menentukan pemim­pin melalui pemilihan umum. Karena itu, rakyat harus mengambil pelajaran dari pemilu-pemilu lalu yang menghasilkan pemimpin-pemimpin yang ada saat ini. Agar rakyat berwawasan yang lebih baik tentang politik, diperlukan pendidikan politik yang lebih baik lagi.

Partai politik sebagai institusi yang memiliki fungsi rekrutmen politik me­miliki peran yang sangat signifikan dalam menentukan pemimpin politik yang berjiwa kepahlawanan. Partai po­litik harus pandai-pandai melakukan rekrutmen politik terhadap orang-orang yang memang memiliki kriteria-kriteria sebagai seorang pemimpin sekaligus memiliki jiwa kepahlawanan.

Berani menderita

Kasman Singodimedjo, salah seorang tokoh pendiri negara (founding people) mengatakan, ungkapan Belanda yang sangat menarik, “leiden is lijden, memim­pin adalah menderita”. Memang benar demikian, karena pada saat kebanyakan orang bisa menikmati hidup dengan memanf aatkan surplus dan waktu luang, seorang pemimpin sejati tidak atau tidak bisa melakukan itu sebab semua miliknya dikerahkan untuk memberikan banyak hal yang dibutuhkan oleh rakyat.

Pemimpin-pemimpin besar yang na-manya dikenang secara positif adalah mereka yang menjadi pemimpin dengan mengabaikan segala tindakan bermegah-megah diri. Sebaliknya, dengan status jabatan yang tinggi, mereka melakukan tindakan-tindakan yang menguras pi-kiran, tenaga, dan juga harta.

Pemimpin-pemimpin macam ini, bahkan secara ekonomi menjadi ber-ubah, dari semula memiliki harta keka-yaan yang terbilang berlebih kemudian menjadi ibarat kata berada dalam ke-kurangan. Atau, sesungguhnya memiliki kapasitas diri yang jika mereka berpikir individualistis bisa digunakan untuk mendapatkan capaian material yang besar dan kemudian bisa menikmati kehidupan pribadi yang serba berkecu-kupan. Namun, mereka tidak melakukan itu karena pilihan untuk berkorban dan memberikan segala daya yang mereka miliki untuk negara.

Pemimpin yang hanya ingin menda­patkan kekuasaan besar dengan sega­la fasilitas yang mengikutinya akan me-nyebabkan kekuasaan tidak fungsional. Bahkan, bisa terjadi kekuasaan justru akan menjadi sarana untuk melakukan penindasan dan pemerasan atas rakyat demi kesenangan pemimpin. Memimpin tidak lagi menderita, me-lainkan sebaliknya “memimpin ada­lah menikmati”. Dengan prinsip ini semangat kepemimpinan bukan altruisme, melainkan egoisme. Dan, korbannya adalah negara, terutama rakyal yang merasakannya.

Sumber : Republika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s