“Melihamu Kini”

Melihatmu kini…

Haru terasa…

Dulu saat engkau lahir…terbayangkah olehmu ?betapa galaunya hatiku, ada kecemasan yg menghantuiku,setelah kejadian setahun persis sebelum engkau lahir…kami kehilangan kakakmu, sesaat setelah persalinan…semoga menjadi sebuah Tabungan yang kelak akan menunggu kami di syurga…

Dan,tepat setahun persis Alloh menggantinya dengan anugrah terindah..dengan lahirnya dirimu,di pangkuan kami,

sejak pertama engkau lahir, rasa sakit sebelum dan sesudah engkau lahir tak terasa begitu aku menatap matamu, bening…!!!

saat engkau menagis,seolah engkau berteriak…”ummi…ummi…ini aku ummi…anak yang engkau pinta sepanjang siang dan malam…anak yang engkau sebut dalam doamu,kini aku ada di hadapanmu ummi. maka bimbinglah aku, maka sayangilah aku,…

sesak terasa dada ini, nak..engkau adalah amanah ilahi,engkau bukan miliku,tapi aku tak sanggup jika engkau pergi dari sisiku,

sejak pertama engkau lahir,

aku merasa engkaulah harapanku,

teringat sebuah kisah sahabiah “ummu Sulaim”..bagaimana mungkin…beliau bisa menyimpan rasa duka nya setelah kematian anaknya demi menyenangkan hati suaminya…ah…fikirku…itu hanya ada dalam sejarah…faktanya…sekejap saja engkau tak berada di sisiku anaku,fikiranku tak pernah sanggup beranjak dari dirimu,

perjalananku mengasuhmu…tak semulus dan tak seideal yang aku cita citakan,bukan karena idealismeku yang menurun…tapi karena kedaanlah,

maafkan aku ya nak…jika di waktu yang lalu engkau banyak kehilangan waktukku.

Aku bukanlah pekerja, tetapi aku mempunyai segudang tanggung jawab yang harus dijalankan…yang terkadang mengabaikan hak hakmu nak,..

maafkan aku, jika engkau tidak merasa nyaman..karena sejak kecil engkau selalu aku bawa dalam semua kegiatanku,dalam majels majelis ilmu, dalam arisan arisan, bahkan dalam demo demo yang memang membutuhkan kehadiranku,

Ummi  yakin,engkau pasti tak bisa menikmatinya…karena itu memang bukan duniamu nak…ummi  berharap ini adalah pendidikan terbaik untukmu,agar engkau kuat kelak menghadapi jamanmu yang tentu lebih dasyat dari jaman ummi.

karena aku mengharapkan engkau akan menjadi pemimpin bagi orang orang yg bertaqwa.

melihatmu besar,

melihatmu mengutarakan pendapatmu

terkadang aku tidak siap nak,

dengan segala argumenmu yang membuatku tak bisa berkutik,

aku bahkan tak siap dengan suara besarmu yang terkadang..terasa keras di telingaku,

maafkan ummi ya nak,

jika ummi terkesan subjektif dengan peraturan yang ummi buat

ummi sering berkata “setiap kerajaan mempunyai peraturan sendiri sendiri, kalo mau hidup  di kerajaan ummi ya harus ikut peraturan ummi”

meski demikian  ummi  menyadari bahwa  engkau bukan robot yang bisa di kendalikan dengan remote kontrol,sehingga…

tak jarang terjadi pemberontakan pemberontakan kecil…

dan engkau tahu anakku…

ummimu ini adalah panglima keluarga yang bertugas menjaga keharmonisan keluarga…

tak selalu pemberontakan di akhiri dengan penumpasan bukan…???

karena terkadang kita mengakhirinya dengan perjanjian damai di sebuah warung bakso…berdua…hanya engkau dan ummi…

satu yang tak kuragukan darimu adalah bahwa engkau mencintaiku..

ini lebih daricukup anakku…

sejak engkau kecil anakku,sebetulnya sudah terlihat karakter sifat dasar ,sebagian sifatku menurun padamu dan sebagian sifat lagi adalah milik ayahmu, engkau suka bercerita sepertiku,spontan,acak tetapi di satu sisi terkadang engkau terlihat tertutup dengan orang orang yang belum engkau kenal,seperti ayahmu…

Alloh telah memberimu kecerdasan berbahasa yang luar biasa anakku, prestasi demi prestasi engkau dapatkan dari kemampuan bahasamu,

beberapa kenangan indah telah kita ukir bersama anakku…

malam malam sebelum engkau tampil membacakan puisi,kita berlatih bersama…dengan suara keras menggelegar hingga membangunkan ayahmu

“SSSSTTT…jangan ribut…latihannya pelan pelan saja” begitu katanya…

“pelan?”katamu..”.bagaimana mungkin?” kita saling berpandangan…dan…ha…ha…kitapun tertawa bersama…

dan,esokknya…ketika engkau tampil di hadapan ribuan penonton…kulihat binnar di mata ayahmu?

wah….”bakat dari siapa ini yah?” katanya…

dan…he,…he…seperti biasa,hidung ummimu ini nak tak bisa di kempiskan…karena aku bangga melahirkanmu nak…

melihatmu tumbuh dewasa,

kecemasanku sebetulnya meningkat anakku,

hari demi hari ku lihat engkau semakin mempunyai dunia sendiri, setiap saat kulihat engkau senantiasa mengarahkan perhatianmu pada sebuah benda hitam yang senantiasa berada dalam genggamanmu,

terlihat sangat asyik…hingga terkadang suara azanpun akhirnya harus aku ingatkan,

alhamdulillah,

meski terlihat kesal tapi berangkat juga engkau ke masjid

anakku..ummi mencintaimu lebih dari yang kamu kira anaku..

karena engkau adalah harapanku…

terasa klise jika ummi katakan,jika  ummi keras terhadapmu,itu karena rasa cinta ummi kepadamu nak…

tapi, itulah kenyataannya

satu yang aku syukuri adalah, engkau selalu menganggpku sebagai temanmu…tempat engkau mencurahkan segala isi hatimu…

setiap hari sepulang sekolah…selalu aku yang engkau cari, dengan suara yg sudah mulai berubah engkau ceritakan semuanya dari a hingga Z…

anakku,

aku tahu engkau sudah bisa memilih, tetapi ijinkan aku mengarahkanmu..

aku ingin engkau mempunyai setasiun kenangan yg indah tentang kami,

yang kelak dengan bangga akan engkau ceritakan kepada anak cucu kami…

dan, nak..

cerita indah itu harus kita buat bersama…bukan hanya dari kami nak…tapi dari kita semua..

bersabarlah dengan bimbingan kami ya nak…

ijinkan kami mengukirmu dengan ukiran terindah yang kami bisa,

yang kelak bisa kami banggakan kepada Zat yang telah menitipkanmu kepada kami…

Robbana…ya Alloh… , jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang tetap mendirikan shalat, ya Robbku…Perkenankanlah do’aku.” (QS Ibrahim : 40)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s