“Sudah kutemukan kembali anakku”

Kali aku akan bercerita tentang anak terkecilku,

namanya Tsaqila adzkiatunnissa, umurnya 17 november 2012 ini 3 th,kami berharap kelak ia akan menjadi wanita yang cerdas,dengan perkataan yang baik.

ketika ia berumur 1 tahun,kami meninggalkannya untuk pergi ke tanah suci.dan dari sinilah kisah ini berawal.

malam itu, sambil duduk di bis yang membawa kami pulang dari bandara ke kota kami di bandung,aku melihat ke luar jendela, aku sudah tak sabar bertemu dengan buah hati kami,setelah 40 hari kami tinggalkan, adakah perubahan pada mereka?sesehat apakah mereka?apakah rasa kangen mereka sebesar rasa kangen aku ibunya?.

hmmm…waktu seperti berjalan sangat lambat, bahkan bis yang kami tumpangi aku rasakan juga sangan lamban,

“hah…”desahku mengusir kebosanan,

astagfirulloh al adzim,adztagfirulloh al adzim” zikirku  sengaja aku jahrkan dan aku ulang terus menerus untuk memutus fikiran jelekku.

“ada apa mi?tanya suamiku.

“sabar ummi, lihat tuh hujannya lebat banget, bisnya kan harus hati hati” hiburnya

he…he…(dalam hati aku tertawa),sebetulnya kalo aku lihat dari tingkah lakunya aku tahu ia juga sama gelisahnya dengan aku, hanya, hemmm sepertinya ia lebih pandai menguasai keadaan. lama kami membisu dengan fikiran kami masing masing.sesekali masih teringat, aktifitas yang kami lakukan di tanah suci .penumpang lainpun terlihat sama seperti kami, yah mereka juga sudah  tak sabar  ingin melihat keluarganya.

jam sembilan malam kamipun tiba di markas KBIH kami dan tak sabar aku mencari cari diantara kerumunan orang orang yang menjemput jamaah, adakah anak anakku  di sana?

kulihat ada rombongan kecil yang menggerakakkan tangannya ke arah kami…”Ummi, Abi”teriak mereka, ternyata  ada ibuku ,anak anak dan amah ami juga suaminya.kucim tangan ibuku, ku peluk ibuku dan kembali aku doakan “agar beliau juga bisa segera berangkat ke tanah suci”.kemudian aku peluk amah ami, kuucapkan terima kasih telah mengantarkan keluargaku, terimakasih sudah susah susah menjemput kami, kudoakan juga, semoga beliau juga segera menyusul mendapat panggilan ke baitulloh.

“mana anak anak umi” tanyaku gembira, alhamdulillah…kataku menyambut mereka dengan pelukan erat…sangat erat…menggambarkan betapa kami sangan merindukkan mereka.meski bukan sunah, tapi aku pegangi kepala anak anaku satu persatu, aku doakan untuk kebaikan mereka.kupeluk mereka satu persatu, kucium kening mereka satu persatu “ya Rob, ijinkan kami membimbing mereka menjadi anak yang sholeh, mudahkan mereka menggapai cita cita mereka selama itu baik untuk kehidupan dunia akhiratnya”

pertama aku peluk anak lekakiku yang berjalan terpincang pincang ke arahku.

“kakak kenapa sayang?”tanyaku, ternyata belum sempat kakaknya menjawab, adiknya lebih dahulu menjawab, “kakak jatuh dari motor umi”.

“Inna lillahi”, kapan?kok bisa?

“nanti, kakak ceritakan pas di mobil ummi, jawab si sulung sedikit jengah ditanya disaat banyak orang berkumpul di sekitar kami.

“mba..tanyaku menyapa anak keduaku, kupeluk ia, kugendong sebentar, mba sehat?”

kuliaht ia menagguk, tetapi anggukannya  kulihat tidak sesuai dengan keadaannya, bibirnya bengkak,terlihat kering dan kulit arinya mengelupas ,

“masya Alloh” mba sari awan ya?

kembali ia meng angguk.hem…aku tersenyum dan kubelai kepalanya.jangan khawatir..insya Alloh sebentar lagi sembuh.kataku menenangkan.

“ya Robb terimakasih, engkau kembalikan kami di saat yang tepat..sepertinya tubuh tubuh merekapun kangen dengan sentuhan kami”

sekarang giliran aku menyapa si kecil, “adik mana?”

“ini adik”kata teteh yang merawatnya.

“subhanalloh”kataku spontan, melihat sosok anak kecil yang imut, pipinya menyembul dari balik kerudung kelincinya yang berwana pink, membuat pipinya yang montok juga terlihat berwana pink.sorot matanya tajam memandangku, sepertnia ia ragu,antara kenal dan tak kenal.

“wah, ummi pangling”, ini bener adik?ih…kok berubah, adik kok jadi endut…kataku sambil tersenyum bahagia, ku ulurkan tanganku padanya,dan tanpa aku duga sebelumnya, ia memalingkan mukanya.ups…panik sesaat mendapat sambutannya.diluar perhiunganku nih.

“masya Alloh, adik,ini ummi nak, ini ummi sayang sini gendong sama ummi yuk!” bujukku.

ternyata cengkeraman tangannya yang memegangi baju khodimahku tak bisa aku buka, semakin aku berusaha membuka maka cengkeraman tangannya semakin kuat, bahkan akhirnya tangisannyapun pecah.

dan,bukan cuma tangisnya saja yang pecah, akupun semakin panik demi di tolak oleh anakku sendiri,kucoba ambil paksa dia dari teh lia, tapi di cegah oleh suamiku, “sabar ummi” biarkan adik mengumpulkan sisa memorinya dulu, biarkan adik beradap tasi dulu.”

“tapi kan ummi kangen abi” sanggahku.

“sabar, nanti juga ingat lagi kok..”Kata ibuku menenangkan.dan kali ini akhirnya aku mematuhi perintahnya, mereka, sambil berjalan ke mobil sambil aku seka air mataku. ada rasa bersalah di hatiku, kulihat di mata adik juga ada sorot yang menurut perasaanku sorot mata itu seolah berbicara “ummi, kenapa engkau tinggalkan aku”

dan itulah awal kerenggangan aku dengan si kecil, di tambah ia sudah tidak mau lagi meminum ASIku lagi, ketika di coba diberikan ia justru menggigitnya kuat kuat, alih alih asi yang keluar, eh malah air mata dan darahlah yang keluar.dan melihat keadaanku, suamikupun menyarankan agar adik di sapih untuk selamnya saja.

sedih, tapi aku juga bingung harus bagaimana lagi.

dan seiring dengan berjalannya waktu, dengan kesibukanku ,dari kursus, antar jemput kakaknya,mengisi beberapa majelis taklim, dan  kesibukanku mengurus bisnisku, si adikpun semakin jauh denganku.dalam kesehariannya paling paling aku hanya mengambil bagian menyuapinya saat pagi dan sore hari.

hal yang terkadang membuatku menagis adalah, ketika ia bangun tengah malam, maka yang di panggil pertama kali adalah ‘teteh”. dan selalu setiap malam aku akan berkata “iya nak..ini ummi sayang, ini ummi”.tentu saja dengan perasaan yang sedih luar biasa.cemburu tentu saja.kenapa yang ia cari bukan aku ibunya, tetapi justru teteh ?

Satu fenomena lagi yang membuat aku menagis adalah, kenyataan, bahwa ketika aku pergi keluar untuk suatu keperluan, maka anakku akan mengantarkan kepergianku dengan tersenyum manis, dan berkata dengan suara yang sangat nyaring… “dadah ummi” katanya merdu,

tetapi  hal yang sebaliknya justru terjadi,manakala  disuatu kesempatan aku menyuruh teh lia pengasuhnya untuk ke warung atau supermarket, maka begitu ia membuka pintu ,anaku langsung lari dan berteriak “teteh…….!”katanya sambil berlari dan menagis,”mau itut teteh…”

fenomena ini berjalan hampir dua tahun.aku pun bingung harus berbuat seperti apa, tetapi aku selalu meminta kepada Alloh yang maha membolak balikkan hati makhluknya ‘ya Robb”kembalikan hati anaku” aku ingin seperti ibu ibu yang lain, yang ia pergi ,anaknya akan merasa kehilangan…”

dan barokah Alloh ternyata datang di saat kami mudik ke Jawa.kami hampir 2 minggu di jawa, dan selama liburan mudik itu adikpun mau tidak mau hanya berinteraksi denganku, dari mandi, makan,bermain,dsb.

Dan karena tidak ada “asisten” maka mau tidak mau dalam semua aktifitasku, dari mulai ke pasar, kursus, mengisi majelis, mengantar dan menjemput sekolah kakaknya dan mengantar beberapa pesanan custamer”, si kecil selalu aku bawa.

pokoknya sejak saat itu hubungan kami kembali harmonis layaknya seorang anak balita dengan ibunya.

Alhamdulillah  hubungan manis ini masih berlangsung meski khodimah kami telah kembali kerumah kami.

meski kemudian maslah baru ternayata muncul.

tidak semua aktifitasku bisa membawa anak, ada yang bisa ada yang tidak.dan semakin hari hubungan kami semakin dekat,ia selalu menempel,bahkan seolah olah takut aku tinggalkan.

setiap pagi jika aku sudah mualai membuka lemari pakaian dan memilih beberapa baju untuk aku kenakan,kemudian aku sudah mengambil peralatan mandi maka, ia dengan setia duduk di depan kamar mandi,dengan baju dan kerudng kecilnya siap akan mengikuti  kemanapun umminya pergi, dan begitu membuka pintu kamar mandi maka yang pertama kali aku lihat adalah senyum manis dan sapaan lembutnya “aku ikut ya ummi?”

he…he…kemudian sambil jongkok aku peluk dirinya “adik, sekarang ummi mau ngisi pengajian di perkantoran,jadi adik tidak bisa ikut,nanti sore saja yah, kalo pas ummi jemput mba najwa, adik bisa ikut” kataku sambil memeluk…tapi sepertinya ia belum mengerti benar tentang penjelasanku, karena yang kemudian terjadi adalah adik justru membisikkan ke telingaku “tapi aku boleh  ikut sekalang kan mi?”

dan tahu apa yang terjadi kemudian?

adik akan membuntutiku selama persiapan kepergianku.dan sudah bisa di duga kejadian berikutnya adalah kejadian yang bisa di sebut sebagai tragedi.aku akan berpamitan, menciumnya, sambil melepas cengkeraman tangannya pada bajuku, berlari cepat ke arah pintu dan menutupnya secepat mungkin,masuk ke dalam mobil ,ass soon as possible i can.dan werrr…memacu kendaraanku juga secepat mungkin jauh dari rumah, supaya tak terdengar lagi suara tangis anaku.kejadian ini hampi terjadi setiap hari.jika jadwalku ada dua maka iapun akan menagis dua kali.

Di lain sisi aku bahagia karena hati anakku sudah aku temukan kembali, tapi suara tangisannya setiap aku akan pergi semakin membuat aku tak tega ,

ketika aku tanyakan adik nangisnya sampai berapa lama?dan apa yang akan ia lakukan kalo ummi pergi?

ternyata jawaban pengasuhnya membuat aku lebih tak tega lagi, katanya begini.”kalo ummi sudah pergi, biasanya adik akan lari ke pagar, sambil nangis pelan pelan..hikcs…hicks…ummi…kasihan anak ummi..kenapa ummi pelgi telus telus..aku kan mau ikut ummi”

Alhamdulillahnya, terkadang ada beberapa tetangga kami yang tahu, dan terkadang ikut menghiburnya dengan mengajaknya bermain.

Sekarang yang sedang kami lakukan adalah berusaha mensosialisasikan kepada si kecil, bahwa, terkadang ada saatnya adik bisa ikut ummi, tapi ada saatnya adik harus menunggu sebentar karena ummi tidak akan pergi dalam jangka waktu yang lama. Aku berharap semoga masa sosialisasi ini tidak lama.semoga mendapat jalan keluar yang terbaik ya..see u next time.

2 responses to ““Sudah kutemukan kembali anakku”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s