Bukankah Cinta itu Harus di pupuk?

Teringat peristiwa beberapa bulan yang silam, saat perjalanan mudik di kampung suami, kami singgah di sebuah masjid untuk menunaikan sholat Zuhur.seperti biasa aku dan kedua putriku sholat di barisan kaum wanita di bagian shoff belakang. tak ada yang istimewa siang itu, kecuali sesaat setelah aku berzikir, agak sedikit jengah, merasa ada sepasang mata yang sedang mengawasiku,

ternyata benar, ada seorang wanita muda, usianya aku taksir sekitar 25 tahunan.kuanggukan kepalaku dengan seulas senyum yang aku sunginggkan semanis mungkin (cie…) .aku mencoba menepis keraguan yang terpancar di matanya.usahaku berhasil.si wanita yang ternyata namanya mba Eroh mendekat.

“Mba..”sapanya kepadaku.

aku mengagguk, sambil berbenah, melipat mukena yg baru saja aku lipat.

“kulo wonten masalah(saya ada masalah)” katanya memulai.

dalam hati aku sedikit heran…ha? ada apa ya?kok nggak kenal nggak apa tiba tiba ada yang curhat…apa wajahku sudah mirip dengan mamah dedeh ya?he..he…kalo postur tubuhnya sih ie…tapi kalo muka…ha…ha..aku belum tua tua amatlah,

tapi, mengingat bahwa aku bukan orang yang ia kenal dan ia memulai curhat, aku fikir dia pasti sedang “galau”.

ku coba memasang kedua telingaku,intinya siang itu si wanita bercerita, bahwa suaminya menikah lagi dan baru saja mempunyai anak dari istri barunya, semua sanak familynya menganjurkan ia untuk meminta cerai kepada suaminya.  supaya ia bisa menikah lagi,  dan ajaibnya si wanita ini bukalah galau karena suaminya menikah lagi, ia galau karena ternyata ia masih mencintai suaminya, dan merasa tidak akan sanggup hidup jika suaminya menceraikannya. ia sanggup hidup di madu.ia galau…bagaimana menjelaskan semua itu kepada keluarga besarnya…

Sambil menangis iapun bercerita, bahwa suaminya menikah lagi karena memang kurang mendapatkan perhatian darinya. setiap hari  jam 3 pagi, ia harus sudah ke pasar untuk berjualan sayur sayuran segar.otomatis semua keperluan anak dan suaminya tidak pernah benar benar ia urus.karena jam sepuluh pagi tatkala ia pulang dari pasar suaminya sudah berangkat ke pabrik.dan ini berlangsung selama bertahun tahun…

Ustad Cahyadi Takariawan, dalam sebuah Artikelnya menuliskan :

Cinta dan kasih sayang antara suami dan isteri bersifat fluktuatif. Kadang tampak demikian kuat, namun pada kesempatan yang lain bisa mengalami pelemahan. Ada banyak faktor dan variabel yang membuat suasana fluktuasi tersebut, baik yang datang dari kondisi jiwa suami dan isteri, atau datang dari luar rumah. Perasaan cinta dan kasih sayang sesungguhnya memerlukan proses penjagaan yang rutin.

Sesungguhnyalah kehidupan keluarga tidak hanya diikat oleh hal-hal besar, seperti iman, visi, motivasi, program, cita-cita, orientasi dan seterusnya. Namun dalam realitas keseharian, ikatan cinta kasih antara suami, isteri dan anak-anak sering kali lebih kuat diikat oleh hal-hal kecil yang dilakukan dengan ketulusan hati. Kebiasaan ringan dan kecil seperti ini pada kenyataannya lebih bercorak praktis dan mudah dirasakan dan dilihat oleh pasangan.

Ada sangat banyak kebiasan kecil dan sederhana, yang apabila dilakukan dengan ketulusan hati, akan mampu menjaga dan menyuburkan cinta kasih antara suami dan isteri. Di antara kebiasaan kecil tersebut adalah :

1. Mengobrol bersama pasangan

Mengobrol adalah aktivitas yang sederhana dan sangat mudah dilakukan. Jangan menyepelekan obrolan bersama pasangan. Mengobrol bisa mengurangi ketegangan jiwa, dan membuat suasana kelembutan hati. Berbagai tumpukan permasalahan akan terurai dan endapan perasaan yang menggumpal di dada, akan terurai dan melarut dalam suasana obrolan yang nyaman.

Jangan berpikir tema. Mengobrol bersama pasangan itu tidak harus dibatasi tema tertentu dengan waktu tertentu. Bisa berbicara tentang tema apapun dan dengan waktu kapanpun yang dimiliki. Bahkan untuk pasangan yang super sibuk, mereka tetap memerlukan aktivitas mengobrol, kapanpun dan dimanapun. Tidak boleh menjadikan kesibukan sebagai alasan untuk meninggalkan mengobrol.

Bagi pasangan yang super sibuk, bisa menyepakati waktu tertentu untuk bisa bertemu fisik dan mengobrol bersama pasangan. Mungkin saja tengah malam, mungkin pula menjelang subuh. Suami dan isteri harus menyediakan waktu dan kesempatan yang memadai untuk bisa mengobrol berdua. Tidak cukup melalui telepon, SMS, BBM, email dan teknologi lainnya. Mengobrol dan bertemu langsung adalah sebuah kebutuhan psikologis bagi suami dan isteri. Maka mengobrol harus dijadikan sebagai kebiasaan yang mengasyikkan dan dirindukan.

2. Sentuhan fisik yang ringan dan lembut

Sentuhan fisik yang ringan dan lembut bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun. Misalnya, ketika berboncengan naik motor, sangat nyaman ketika isteri memeluk suami dari belakang. Ketika mengendarai mobil berdua, isteri bisa menyentuh dengan lembut tangan suami yang tengah memegang tuas perseneling. Ketika berpamitan untuk berangkat kerja, suami bisa mencium kening isteri, dan isteri bisa mencium tangan suami.

Aktivitas memeluk, membelai, menggandeng tangan adalah contoh sentuhan fisik yang sangat dalam maknanya. Tanpa harus berkata-kata, cukup memeluk saja, itu sudah memberikan banyak pesan yang lebih luas daripada kata-kata. Sentuhan fisik termasuk salah satu sarana komunikasi nonverbal yang sangat efektif. Komunikasi tidak selalu dalam bentuk obrolan panjang atau diskusi yang akademik, namun sentuhan telah memberikan berbagai pesan yang sangat dalam.

3. Memberikan perhatian melalui berbagai sarana

Perhatian suami kepada isteri –dan sebaliknya—bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk dan sarana. Saat suami berkemas hendak berangkat kerja, isteri bisa menunjukkan perhatian dengan memberikan bantuan, atau sekedar mengingatkan, apakah ada perlengkapan yang ketinggalan. Saat isteri berdandan, suami bisa memberikan perhatian dlam bentuk memuji penampilannya atau menyarankan suatu penampilan tertentu yang lebih menarik.

Perhatian juga bisa ditunjukkan melalui teknologi. Misalnya mengirim pertanyaan dan ingatan melalui SMS atau BBM, “Pa, jangan lupa obatnya diminum siang ini jam 13.00”. Atau ungkapan, “Mama jangan lupa makan siang ya, biar tetap sehat dan fit”. Telepon juga merupakan bentuk perhatian. Walaupun terpisah jarak dan waktu karena tugas, tetap ada perhatian melalui bantuan teknologi.

4. Menyampaikan cerita dan informasi

Kebiasaan ringan lainnya yang bisa menguatkan keharmonisan keluarga adalah menyampaikan cerita dan informasi kepada pasangan. Misalnya suami yang akan mendapatkan tugas dari kantor untuk kunjungan ke luar daerah, bisa menceritakan dan menginformasikan rencana tugas tersebut kepada isteri. Dengan demikian, isteri merasa dilibatkan dalam tugas suami sejak awal, dan membuatnya merasa mendapat kepercayaan serta perhatian.

Demikian pula seorang isteri bisa menyampaikan cerita tentang apa yang dilakukan seharian bersama anak-anak di rumah. Cerita dan informasi ringan seputar aktivitas rutin sehari-hari di tempat kerja, di rumah, di masyarakat, yang disampaikan kepada pasangan, merupakan bagian dari kebiasaan yang menguatkan cinta kasih antara suami dan isteri. Masing-masing merasakan adanya keterbukaan dan kejujuran melalui cerita dan informasi yang mengalir setiap hari.

Masih sangat banyak kebiasaan kecil dan ringan yang mudah dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, yang menguatkan keharmonisan keluarga. Selayaknya suami dan isteri memperhatikan kebiasaan kecil yang akan semakin menyuburkan suasana cinta dan kasih sayang di antara mereka. Itu pula yang sekaligus memupuk perasaan suka dan perasaan saling membutuhkan antara suami dan isteri.

5.Saling mendoakan,

aktifitas ini sebenarnya adalah aktifitas yang sangat ringan, tetapi jika di hayati effeknya sangat dasyat, karena hati kitalah sesama anggota keluarga yang akan diikatkan oleh alloh SWT.Allohlah yang akan menjaga kebersamaan keluarga kita , menjadi orang orang yang saling menyayangi satu sama lain, saling menghormati, dsb.kalo bahasa kerennya mah saling asah asih dan asuh.

“Robbana Hablana min Azwa jinna wa dzuriatinna  qurota a’yun wajalana lil mutaqina imama” ya Robb karuniakanlah kepadaku pasangan hidup dan anak anak yang menyenangkan hatiku dan jadikan mereka pemimpin orang orang yang bertaqwa”

wallohu alam bi showab

wallohu alam semoga bisa mencerahkan keharmonisan keluarga kita semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s