Menjadi Mukmin Yang Kuat

tulisan ini sebetulnya aku tujukan untuk diriku sendiri, setelah 3 hari terkapar…aku mencoba untuk bangkit, berusaha mencari hikmah dari apa yang sedang dialami, berbagai pertanyaan muncul…bagaimana Rosululloh, umar,para sahabat dan para salafus sholeh memelihara jazadiyah mereka yah…aku yakin kesibukan mereka jauh sekali di bandingkan dengan kesibukan kita.

kalo kita lihat orang orang di sekitar kita kadang kita jumpai orang-orang yang memiliki fisik sehat dan kuat, namun rapuh kejiwaannya. Mereka mudah kecewa dan putus asa, mudah menyerah dalam berusaha, mudah lemah dalam mencapai cita. Tipe manusia seperti ini cenderung pasif dalam kehidupan, tidak berani menghadapi resiko dan tantangan, hidup mereka sebatas angan-angan. Mereka termasuk orang-orang yang lemah, dan akan mudah kalah.

Kadang kita jumpai pula orang-orang yang kuat secara fisik, namun lemah secara intelektual. Mereka tidak mengembangkan tradisi ilmiah yang sesungguhnya merupakan watak dasar Islam. Akal dan pemikiran mereka tidak dibiasakan berada dalam kondisi hidup dan dipenuhi khazanah ilmu. Belajar hanyalah kegiatan formal di bangku sekolah, setelah tamat mereka membiarkan pemikiran membeku tanpa penambahan wawasan dan pengetahuan.

Sebaliknya, ada pula sebagian manusia yang sangat mengagungkan intelektualitas dan rasionalitas, akan tetapi lemah dalam sisi spiritual. Pengembaraan intelektual mereka berjalan tanpa batas akhir, akan tetapi sangat mudah meninggalkan ibadah ritual. Dalam berdiskusi tentang ilmu keislaman, mereka betah berjam-jam, namun tidak betah menunaikan shalat yang hanya beberapa menit. Tentu saja kondisi ini menyebabkan ketidakseimbangan.

Allah menghendaki kita menjadi kuat, bukan menjadi lemah. Bukan hanya kuat secara fisik, namun kuat dalam berbagai aspek, baik spiritual, moral, intelektual, amal, dan finansial. Bukan hanya kekuatan dalam kualitas pribadi, namun juga kuat secara kolektif, seperti kekuatan jaringan, kekuatan organisasi, kekuatan politik, dan berbagai kekuatan lainnya yang bisa dipersiapkan untuk mencapai kemenangan.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.”

(HR. Muslim)

[Muslim: 47-Kitab Al Qodar, An Nawawi –rahimahullah- membawakan hadits ini dalam Bab “Iman dan Tunduk pada Takdir”]

 

Beberapa pelajaran berharga dapat kita petik dari hadits ini.

Mukmin yang Kuat Lebih Baik daripada Mukmin yang Lemah

Mukmin yang kuat di sini bukanlah yang dimaksudkan adalah mukmin yang kekar badannya, perkasa dan sehat. Semacam ini yang sering dipahami sebagian orang tatkala mendengar hadits ini.

Yang dimaksud dengan mukmin yang kuat di sini adalah mukmin yang kuat imannya. Bukan yang dimaksudkan dengan kuat di sini adalah mukmin yang kuat badannya. Karena kuatnya badan biasanya akan menimbulkan bahaya jika kekuatan tersebut digunakan dalam hal maksiat. Namun pada asalnya, kuat badan tidak mesti terpuji dan juga tidak mesti tercela. Jika kekuatan tersebut digunakan untuk hal yang bermanfaat untuk urusan dunia dan akhirat, maka pada saat ini terpuji. Namun jika sebaliknya, digunakan dalam perbuatan maksiat kepada Allah, maka pada saat inilah tercela.

yang di maksud kuat di sini adalh kuat dalam keimanan,yaitu  seseorang yang  mampu melaksanakan kewajiban dan dia menyempurnakannya pula dengan amalan sunnah. Sedangkan seorang mukmin yang lemah imannya kadangkala tidak melaksanakan kewajiban dan enggan meninggalkan yang haram. Orang seperti inilah yang di sebut sebaigai doif atau lemah.

Lalu yang dimaksudkan bahwa orang mukmin yang kuat itu lebih baik daripada yang lemah adalah orang mukmin yang kuat imannya lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah imannya.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa mereka semua (yaitu mukmin yang kuat imannya dan mukmin yang lemah imannya) sama-sama memiliki kebaikan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan demikian agar jangan disalahpahami bahwa mukmin yang lemah imannya tidak memiliki kebaikan sama sekali. Mukmin yang lemah imannya masih tetap memiliki kebaikan dan dia tentu saja lebih baik daripada orang kafir. Namun sekali lagi diingat bahwa mukmin yang kuat imannya tentu saja lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah imannya.

Kuat dalam hadits di atas mencakup kuat fisik, jiwa, dan materi. Kemudian semua itu diikat dengan iman kepada Allah Ta’ala, ridha dan menerima qadha’ dan qadar. Sehingga mukmin yang kuat dalam hadits di atas, adalah mukmin yang kuat tekad dan semangatnya –khususnya dalam urusan akhirat- sehingga ia lebih banyak maju melawan musuh dalam jihad, lebih semangat keluar dan pergi menyambut jihad, lebih semangat dalam melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, dan bersabar atas ujian di dalamnya. Kuatnya  di sini mencakup kuatnya kerinduan terhadap Allah Ta’ala dan menjalankan tuntutannya berupa shalat, puasa, zikir, infak, shadaqah, dan ibadah-ibadah lainnya; lebih aktif mencari dan menjaganya.

Sedangkan makna mukmin lemah adalah kebalikan dari semua ini. Namun tidak boleh diremehkan, sebab ia masih dalam lingkup baik karena masih ada iman dalam dirinya.

Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan setiap mukmin, baik yang kuat maupun yang lemah, untuk bersemangat dalam mencari apa yang manfaat untuk dirinya dari urusan dunia dan akhiratnya. Namun tidak boleh lupa terhadap kuasa Allah dengan senantiasa meminta pertolongan kepada-Nya dalam menjalankan usaha tersebut. “Semangatlah meraih apa yang manfaat untukmu dan mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan bersikap lemah.

Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh menjelaskan maksud hadits di atas, “Dan maksudnya: bersemangat dalam menjalankan sebab yang bermanfaat bagi hamba dalam urusan dunia dan akhiratnya dari sebab-sebab yang wajib, sunnah, dan mubah yang telah Allah syariatkan. Lalu dalam mengerjakan sebab tersebut, hamba tadi meminta tolong kepada Allah semata, tidak kepada selain-Nya, agar sebab itu menghasilkan dan memberi manfaat. Bersandarnya hanya kepada Allah Ta’ala dalam mengerjakannya. Karena Allah lah yang menciptakan sebab dan akibatnya. Suatu sebab tidak akan berguna kecuali jika Allah mengizinkannya. Sehingga hanya kepada Allah Ta’ala semata ia bertawakkal dalam mengerjakan sebab. Karena mengerjakan sebab adalah sunnah, sementara tawakkal adalah tauhid. Jika ia menggabungkan keduanya, maka akan terwujud tujuannya dengan izin Allah.” (Fath al-Majid: 560)

Usaha dan isti’anah harus terus dilakukan, tidak boleh melemah karena malas, putus harapan, perkataan orang, perasaan tidak enak, mitos atau sebab yang tak jelas lainnya. Karena ada sebagian orang yang sudah bersemangat menggapai apa yang dibutuhkannya dan disyariatkan kepadanya, lalu ia melemah dan malas sehingga meninggalkan amal tersebut. Manfaat dan mashlahat yang dibutuhkannya hilang begitu saja sehingga ia menjadi manusia merugi.

Bagi seorang muslim jika melihat suatu pekerjaan yang mendatangkan manfaat dan guna untuk dirinya, hendaknya ia semangat mengerjakannya dan beristi’anah kepada Allah agar dikuatkan dan dimudahkan, lalu komitmen dan konsisten menyelesaikan pekerjaannya. Jika demikian berarti ia mengikuti wasiat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hadits ini sehingga ia terkategori sebagai mukmin yang kuat. Di samping manfaat dan mashlahat yang dibutuhkannya diperoleh, ia juga mendapatkan pahala dalam kesungguhannya tersebut.

Dikisahkan dari perjalanan hidup Imam al-Kasai, seorang ulama ahli Nahwu, saat mulai bejalar ilmu Nahwu beliau mendapati kesulitan sehingga hampir putus asa. Kemudian beliau menemukan seekor semut membawa makanan ke atas tembok. Setiap semut itu naik sedikit, ia terjatuh. Begitu berulang-ulang sehingga ia berhasil naik ke atas. Imam al-Kasai mengambil pelajaran dari semut tersebut, beliau bersungguh-sungguh dalam belajar sampai menjadi imam besar dalam ilmu Nahwu.

Saat ini susah mencari mukmin yang kuat, why?

1.  Rosululloh saw, bersabda “suatu ketika ummatku akan seperti buih yang ada di lautan, jumlahnya banyak tetapi mereka tidak mempunyai kekuatan apa apa” hingga para sahabatpun bertanya kapan ya Rosululloh? beliau SAW, menjawab, makanakala mereka terkena penyakit “WAHN”

apa itu penyakit Wahn?penyakit wahn adalah penyakit cinta dunia dan takut mati.  inilah fenomenanya, umat islam saat ini banyak yang terseret arus hedonis, terjebak pada kesenangan sesaat, tanpa memikirkan apa yang terjadi kemudian.banyak menghalalkan segara cara untuk mendapatkan kesenangan sesaat.  bukan berarti kita idak di perbolehkan mencari dunia.Alloh SWT dlm surat al Jumuah justru menyuruh kita “fantasiru fill ard” bertebaran di muka bumi, untuk mencari Rizki Alloh swt, dengan memberikan Rambu Rambunya (QS>AL QOSOS : 77)

2.karena Kelemahan itu sifat dasar manusia.

QS. 4: 28,QS.Ar Rum : 54

bahwa manusia itu diciptakan dari kelemahan, manusia mempunyai tabiat lemah, inilah sebabnya banyak manusia yang menghindar jika di beri beban yang berat.

Bagaimana supaya kita menjadi orang yang kuat?

A. Aspek Ruhani,

perbanyak ibadah ibadah nawafil (ibadah ibadah yang sunah)baik sholat,puasa,membaca al quran maupun  sedekah., bangunlah di 1/3 malam, karena disinilah sumber kekuatan ruhani kita, sedekahlah dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit (QS.3 ; 132), bacalah al quran, karena al quran itu adalah sebaik baiknya berzikir.

teringat nasihat seorang guru, bahwa ibadah sunah itu ibarat seperti pagar yang membentengi rumah kita.Tabiat keimanan adalah Yasiddu wa yankusyu, iman itu terkadang naik dan turun. jika kita terbiasa melakukan amalan amalan yang sunah, tatkala keimanan kita turun, maka insya Alloh amalan yang wajib masih tetap terjaga, demikian sebaliknya, jika kita malas melakukan amalan yang sunah, maka ketika iman kita sedang turun, di khawatirkan ibadah wajib kita tidak terjaga.

B.  Aspek  Fikriyah

perbanyaklah mengikuti kajian kajian keislaman, membaca buku  dan hasil penelitian penelitian ilmiah.

Dr. Aidh bin Abdullah al-Qarni, dalam bukunya, “La Tahzan” mengungkapkan tentang banyaknya manfaat membaca, yaitu di antaranya sebagai berikut :
  • Membaca menghilangkan kecemasan dan kegundahan.
  • Ketika sibuk membaca, seseorang terhalang masuk ke dalam kebodohan.
  • Kebiasaan membaca membuat orang terlalu sibuk untuk bisa berhubungan dengan orang-orang malas dan tidak mau bekerja.
  • Dengan sering membaca, orang bisa mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam bertutur kata.
  • Membaca membantu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir.
  • Membaca meningkatkan pengetahuan seseorang dan meningkatkan memori dan pemahaman.
  •  Dengan membaca, orang mengambil manfaat dari pengalaman orang lain: kearifan orang bijaksana dan pemahaman para sarjana.
  • Dengan sering membaca, orang mengembangkan kemampuannya; baik untuk mendapat dan memproses ilmu pengetahuan maupun untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu dan aplikasinya dalam hidup.
  • Membaca membantu seseorang untuk menyegarkan pemikirannya dari keruwetan dan menyelamatkan waktunya agar tidak sia-sia.
  • Dengan sering membaca, orang bisa menguasai banyak kata dan mempelajari berbagai tipe dan model kalimat; lebih lanjut lagi ia bisa meningkatkan kemampuannya untuk menyerap konsep dan untuk memahami apa yang tertulis “diantara baris demi baris” (memahami apa yang tersirat).

C,  Aspek Jazadiyah

Harus extra konsentrasi dalam membangun kekuatan fisik ini kalau perlu konsultasi dgn dokter yg ahli. Kita akan terasa memiliki kekuatan extra jika kita berusaha memperbaiki diri mulai dgn ritme makan olahraga jam istirahat yg diperbaiki kualitasnya. Walaupun kekuatan fisik bukan satu-satu yg terpenting tetapi jelas bahkan jika fisik kita kuat akan sangat berguna.

Rosululloh SAW adalah sosok yang perkasa, meski beliau sering berpuasa ,sholat malam ,dsb, tetapi fisik beliau sangat prima, pada saat perang khondaq rosululloh saw di ceritakan sanggup memecahkan batu hingga keluar apinya.Pedang Imam Ali di Turki sangat besar lbh besar lagi dan bahkan lbh panjang pedang Imam Jafar As-Shoddiq logika kalau tak memiliki tangan yg kuat maka tak akan mampu menggunakannya.

Imam syafi’i yang kita kenal sebagai imam mahsab terbesar, hafiz al quran, gudang ilmu, ternyata ia juga mahir berkuda dan memanah. 99 persen hasil panahannya tepat sasaran meski memanahnya sambil berkuda.

bahkan umar bin khotob berwasiat kepadakita “ajarilah anak anakmu berenang sebelum membaca”.sekilas terasa aneh ya…tapi kalo kita kaji lagi ternyata…berenang termasuk life skill  yang dasar.pembentukan fisik  pada balita harus lebih di dahulukan di banding pembentukan kognisi.  intinya..fisik kita perlu kita pelihara agar kita sehat dan akan lebih banyak lagi melakukan kebaikan.

D.Aspek Maliyah

Kekuatan yg kedua adl kekuatan finansial kekuatan ini juga akan membawa pada kebaikan. Contoh pergi ke pengajian ini memerlukan biaya bahkan semua episode hidup ini memerlukan biaya. Nabi Muhammad menikah pertama kali tak dgn Siti Aisyah melainkan dgn Siti Khadijah yg memiliki pilar ekonomi yg kuat. Hal ini penting bagi umat Islam jangan menganggap orang kaya itu paling belakang masuk ke surga. Itu tak penting kita dicintai Allah di dunia dan akhiratlah yg kita cari. Golongan orang yg masuk surga tanpa hisab adl ulama orang kaya yg menafkahkan harta di jalan Allah mujahadah yg mati syahid dan haji mabrur.

Dikisahkan ketika dipersilahkan masuk ke surga haji mabrur terlebih dahulu tetapi dia menolak dgn alasan harus ulama dahulu krn ia mengetahui hukum-hukum haji dari guru yg seorang ulama. Begitu pula mujahid ia tak akan mengetahui keutamaan jihad kalau tak ada ulama yg mengajarkannya. Tetapi ketika ulama dipersilahkan ia malah mempersilahkan orang kaya krn ia menganggap jika tak ada bangunan-bangunan islami yg dibiayai oleh orang kaya ia tak mungkin dapat berdakwah.

Penutup

Tulisan ini mengajak kepada pembaca untuk terus meninggkatkan kualitas dan kuantitas iman. Mengajak untuk menjadi hamba Allah yang kuat imannya. Yakni dengan menguatkan semangat dalam menggapai kemanfaatan duniawi dan ukhrawi, disertai isti’anah kepada Allah semata. Terus semangat, konsisten dan komitmen dalam usahanya, dan tidak melemah. Jika terjadi sesuatu yang tak sesuai harapan, ia tidak lantas ambruk dan kapok. Tidak pula mengandai-andai, jika tadi melakukan ini pasti terjadi sesuatu yang lain. Karena mengandai-andai semacam ini akan membuka pintu syetan, yakni akan menyebabkan cacian terhadap takdir, marah kepada keputusan Allah, lemah semangat, was-was, merana dan sedih. Tetapi hendaknya ia terus menjaga semangat dan keyakinanya kepada Allah dengan mengatakan, Qaddarallahu Wamaa Syaa-a Fa’ala (Allah telah mentakdirkannya, dan apa yang Dia kehendaki Dia Perbuat).

One response to “Menjadi Mukmin Yang Kuat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s