Benarkah life begining at Forty ?

Dulu saat Usiaku 20 tahun, ibuku berusia 40 tahun.  Sekarang tatkala usiaku menginjak 40 tahun, anakku yang paling besar baru berusia 14 tahun.melihat kenyataan ini terkadang aku berfikir, nanti kalo aku punya cucu sudah setua apakah diriku yah? paling aku hanya bisa berdoa “Allohumma ‘afini fii badanii,Allohumma ‘afiinii  fii sam’i, Allohumma ‘afiinii fi bashori, ya alloh berikanlah kesehatan pada badanku, pendengaranku dan penglihatanku” agar aku kelak bisa melihat anak cucuku dengan kesehatan luar biasa yang Engkau anugrahkan kepada hamba aamiin.

Dulu aku sering terheran heran dengan orang tua yang masih lincah(baca semangat ya!), atau kita juga suka penasarankan?kalo lihat “NELI” alias nenek nenek lincah? bahkan terkadang kok aneh ya..sudah nenek nenek kok tidak menyadari kalo dirinya sudah tua..

Sekarang saat rambutku sudah mulai berwarna, aku baru menyadari bahwa menjadi tua adalah sesuatu yang diluar kekuasaan kita bahkan di luar kesadaran kita,tiba tiba saja rambut kita jadi berubah , kerutan di mata sudah muali sering tampak,tiba tiba saja kita menjadi gampang capek, sementara semangat kita masih sama.nah…masalah mensinkronkan semangat dan kekuatan inilah yang ternyata menjadi masalah bagi sebagian orang.  bahkan suamikupun terkadang tidak menyadarinya (maaf ya bi), pulang kerja, pinginnya langsung bercanda dengan putri kecil kami, main kuda kudaan, eh…terkilir…dan, baru sadar deh, “oh iyya yah…abi sudah tua sekarang” katanya sambil mengelus elus punggungnya yang terkilir.

tetapi menjadi tua bukan berarti kita akan menjadi lemah, boleh jadi fisik kita tidak sebaik dulu, tetapi pengalaman kita yang banyak akan bisa menutupi kekurangan fisik. Ingat ! bukankah Rosululloh SAW, justru memulai dakwahnya saat usia beliau menjak 40 tahun.

menginjak usia 40 tahun, semangat beribadah off course harus di tambah, karena berati usia normal kita tinggal sekitar 20 tahunan lagi,bahkan Masruuq, seorang faqih asal Kufah, mengatakan, ”Jika salah seorang kalian memasuki usia empat puluh tahun, berhati-hatilah jangan sampai jauh dari Allah swt.” Muhammad bin Husain, cicit dari sahabat Rasulullah saw, Ali bin Abi Thalib ra, mengatakan, ”Seseorang yang usianya mencapai empat puluh tahun, ada panggilan yang menyerunya dari langit,  usiamu sudah hampir habis, maka perbanyaklah bekal.. ”

dengan waktu yang tersisa sekitar 20 tahunan apa lagi yah yang bisa kita perbuat? yah…bersyukur, karena begitu banyak ternyata nikmat Alloh yang telah di berikan kepada kita,

Al Qur’an, khusus menyebut angka usia itu dalam surat  Al Ahqaf ayat 15. Dalam ayat yang menjelaskan kewajiban seorang anak berbakti kepada kedua orang tua itu, Allah swt berfirman, ”…. Sehingga apabila  dia (anak) telah dewasa dan mencapai usia empat puluh tahun, ia berdo’a : ”Ya Tuhanku, tunjukkanlah aku untuk mensyukuri nikmat yang Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku, dan supaya aku dapat berbuat amal shalih yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

Lili Nur Aulia, menjelaskan ayat ini dengan sangat gamblang, Coba perhatikanlah potongan kalimat dalam do’a seorang anak saat ia berusia empat puluh tahun itu.

Pertama, do’a itu yang mengandung pengharapan kepada Allah swt agar bisa dikaruniai jiwa yang sadar akan ragam kenikmatan Allah swt yang telah dilimpahkan selama ini. ”Ya Tuhanku, tunjukkanlah aku untuk mensyukuri nikmat yang Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku…” Ini kalimat tanda kesadaran dan ketundukan yang harus sudah ada sejak seseorang menginjak usia empat puluh tahun. Kesadaran atas kenikmatan yang begitu banyak dan lama, namun tetap tidak melupakan kenikmatan paling besar yang telah Allah swt berikan melalui kedua orang tuanya. Bukti pengakuan atas ketidakberdayaan selama ini, kecuali karena kasih sayang Allah swt dan orang tua.

Kedua, do’a itu berisi permohonan agar bisa lebih giat dan kuat dalam menjalani amal-amal shalih untuk mendapatkan ridha Allah swt. Ucapan ”supaya aku dapat berbuat amal shalih yang Engkau ridhai” merupakan pernyataan tentang keinginan agar Allah swt menetapkan hati lebih kuat, memberikan kesehatan lebih baik setelah usia itu, untuk bisa melipatgandakan keshalihan-keshalihan yang bisa mengundang ridha-Nya. Ucapan tentang keinginan dan harapan ini, secara implisit menyimpan adanya kekhawatiran karena usia yang semakin tua, sekaligus kerawanan terhadap berbagai fitnah dan ujian yang mungkin datang di usia-usia yang sebenarnya harus mendekatkan setiap orang kepada Penciptanya. Tanda kian kuatnya pikiran bahwa hidup ini harus bernilai dan keinginan meninggalkan suatu yang berharga dalam hidup ini. Karena itulah, ia memohon agar Allah swt lebih menguatkan segala keadaan yang mendukung amal-amal shalih.

Ketiga, dalam do’a itu disebutkan ”berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku…” Ini adalah sebuah pinta yang lahir atas kesadaran tanggung jawab atas anak dan kelak cucu, yang akan menjalani kehidupan seperti yang dialami selama empat puluh tahun. Setelah melewati masa-masa awal pernikahan, menimang dan mendidik buah hati di saat mereka masih kecil, hingga saat mereka menjelang remaja dan akhirnya dewasa seperti diri para orang tua mereka. Kesadaran bahwa kelak, anak-anak dan cucu-cucu itu, tidak mungkin selalu didampingi dan diarahkan jejak langkahnya. Kesadaran bahwa ada banyak cobaan yang menghalangi mereka untuk menjadi manusia yang shalihin dan shalihat….
Tiga hal yang terkandung dalam do’a ini, menyiratkan jawaban pertanyaan dalam yang muncul dalam diri manusia yan telah menginjak empat puluh tahun. ”Apa yang telah kupersembahkan selama empat puluh tahun?” ”Apa yang aku lakukan sekarang?” dan ”Apa yang akan aku lakukan di hari-hari mendatang?”

Ibnu Athiyyah dalam Al Wajiiz, menjelaskan bahwa penyebutan angka usia empat puluh tahun dalam firman Allah swt itu, salah satunya memiliki arti bahwa di usia itulah tapal batas kebaikan atau keburukan seseorang.

Sementara ada pula sebagian orang yang menganggap usia empat puluh merupakan batas peralihan seorang manusia dari kuat menjadi lemah. Tapi di sisi lain, kelemahan itu diiringi dengan kematangan pengalaman, keseriusan beramal, sehingga mulai usia itulah seseorang akan bisa terlihat sumbangsih dan peran-perannya yang lebih nyata. Islam tidak menganggap usia empat puluh tahun sebagai waham yang menghantui seseorang bahwa ia menjadi semakin berat bergerak, lekas letih, sulit beraktifitas, dan lemah. Tapi dilihat dari isi do’a yang termuat dalam surat Al Ahqaaf di atas, sesungguhnya peran-peran besar itu sedang dimulai sejak seseorang menginjak usia empat puluh tahun. Sebab, dalam keyakinan Islam kita, usia berapapun tak pernah boleh menjadikan seseorang merasa lebih lemah untuk melakukan kebaikan. Imam Ahmad rahimahullah, dalam usia renta, ditanya, ”Sampai kapan engkau akan menulis hadits?” Ia menjawab, ”Sampai mati.” (Aadaab fi Thalabil Ilmi, 29)

So, be Carefull !!, karena di usia inilah tapal batas dimana tempat kita kelak, apakah kita berada di barisan orang orang yang telah Alloh beri nikmat kepada mereka  atau kita akan berada di tempat orang orang yang tidak pernah bersyukur atas nikmat dan karunia Alloh,

Andalah yang menentukan.kesimpulan : That is  Right life begin at forty

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s