Anaku Mau Disekolahkan dimana ya mba?

Beberapa sekolah di kota bandung sudah mulai membuka pendaftaran sekolah bagi calon siswa baru mereka. Dan Alhamdulillah beberapa teman juga ada yang inbox sekedar meminta masukan, anaknya bagusnya akan di sekolahkan di mana ya?

Terus terang pengalaman saya tentang sekolah mana yang baik sangat sedikit, apalagi dengan jumlah anakku yg tidak terlalu banyak, anakku cuma  3 orang dengan sekolah  dari yayasan yang berbeda, beda, masing masing mempunyai plus minus sendiri sendiri.  terkadang pemilihanku terhadap sekolah juga tidak objektif, jika aku banyak menerima curhatan dari salah satu sekolah dari beberapa teman temanku yang menyekolahkan di salah satu sekolah, maka aku berazam, ah,…kalo begitu aku tidak akan menyekolahkan anakku ke sekolah  tersebut tanpa aku mengeceknya.

Karena keminimuman pengetahuanku inilah yang mendorongku untuk mencari tahu sebetulnya cara memilih sekeloh yang bagus seperti apa yah?

  • Perhatikan  dialog seseorang dengan Munif Chatib berikut.

    “Bagaimana sih cara memilih sekolah yang bagus untuk anak saya ? Semua sekolah, kalau ditanya, pasti menjawab sekolah mereka bagus. Bagaimana cara praktis untuk memilihnya ?” tanya seorang sahabat.

    “Gampang!” jawab Munif Khatib. “Temui saja kepala sekolah bersangkutan, tanya baik-baik dan serius tentang jadwal pelatihan guru di sekolahnya. Jika seorang kepala sekolah mengatakan jadwal pelatihan guru di sekolahnya dilakukan 3 hari dalam 1 tahun, kepala sekolah lain mengatakan 3 hari dalam 6 bulan, sedangkan kepala sekolah lainnya lagi mengatakan bahwa setiap hari hampir ada konsultasi lesson plan –yang merupakan pelatihan guru yang paling praktis- pilihlah sekolah yang punya durasi jadwal pelatihan terbanyak!”

    Dialog di atas juga saya kutip dari buku “Gurunya Manusia” (halaman 39). Dengan sangat jelas, Munif memberikan titik tekan sedemikian penting terhadap upaya peningkatan kualitas guru melalui program pelatihan. Ini adalah cara untuk meningkatkan kualitas pendidikan, dan jika pendidikan bagus akan terbangun masyarakat, bangsa dan negara yang berkualitas.

  • bahkan Miriam Kronish, seorang Kepala Sekolah SD John Eliot 1988 – 2002, Needham, Massachusetts, Amerika Serikat, yang dikutip oleh Munif Chatib dalam buku “Gurunya Manusia” (Kaifa, Jakarta, 2011, halaman 30). berpidato bahwa  “Masa depan pendidikan di Amerika ditentukan oleh sebuah kekuatan. Jika saja kami punya kekuatan, kekuatan tersebut adalah program utama di sekolah kami, yaitu pelatihan guru. Guru tidak hanya cukup membaca metode-metode belajar mengajar terbaru. Guru harus dilatih, seperti halnya aktor atau penyair yang perlu berlatih. Setelah itu guru bisa mengajarkan kepada orang lain. Guru profesional adalah gelombang masa depan Amerika”.Ungkapan Miriam Kronish menyiratkan optimisme gelombang baru masa depan yang dahsyat di Amerika, apabila semua sekolah memberikan pelatihan kepada guru sehingga para guru mampu mendidik dengan baik. Kunci perubahan sebuah negara adalah pada pendidikan, kunci keberhasilan pendidikan adalah kualitas guru, dan kunci kualitas guru adalah pada program pembinaan dan pelatihan.
  • Saya sangat sepakat dengan cara pandang ini. Bahwa pendidikan adalah kunci perubahan, dan pendidikan sangat ditentukan oleh para pelaku pendidikan, dalam hal ini adalah guru. Namun, pendidikan bukan hanya terjadi di sekolah. Bahkan sebelum anak-anak mengalami masa sekolah, mereka telah belajar di rumah. Setelah anak-anak sekolah, mereka juga pulang ke rumah.
  • Artinya, pendidikan justru dimulai di rumah. Maka selain memperhatikan kualitas pendidikan di sekolah, yang juga harus diperhatikan adalah kualitas pendidikan di rumah. Sukses pendidikan akan terbentuk, apabila terjadi harmoni pendidikan di rumah dan sekolah, terjadi keselarasan perhatian orang tua di rumah dan para guru di sekolah.

    Sangat menarik dialog Munif yang saya kutip di atas. Pada intinya Munif menyimpulkan bahwa menilai kualitas sekolah bisa dilihat dari sejauhmana sekolah tersebut memiliki perhatian terhadap program pelatihan guru. Semakin sering guru mendapat pelatihan, semakin bagus kualitas sekolah itu.Dengan demikian orang tua memiliki kesempatan untuk menimbang dan akhirnya memilih sekolah yang bagus untuk anaknya. Sekolah yang para gurunya selalu terjaga kebaikan dan kulaitasnya karena selalu mendapat up-grade dengan berbagai program pelatihan secara rutin. Dengan kualitas guru yang bagus, sekolah akan menjadi handal dalam menghasilkan anak didik yang berkualitas. Sekolah seperti inilah yang menjadi idaman orang tua maupun anak didik.

    Tapi bagaimana dengan kualitas pendidikan di rumah kita ? Bukankah pendidik utama di rumah adalah ayah dan ibu, atau orang tua ? Sejak anak belum mengenal sekolah, anak-anak sudah belajar secara alami dalam lingkup keluarga. Dibersamai oleh ayah dan ibu, anak-anak mendapatkan pembelajaran tentang berbagai hal dalam kehidupan. Pertanyaannya adalah, apakah ayah dan ibu mendapatkan pelatihan rutin ? Apakah orang tua mengikuti pendidikan yang memadai untuk menjadi ayah yang berkualitas dan menjadi ibu yang berkualitas ?

    Rumah yang berkualitas, adalah rumah yang melahirkan anak-anak berkualitas. Anak-anak berkualitas lahir dari orang tua yang berkualitas. Orang tua berkualitas lahir dari proses pendidikan dan pelatihan secara kontinyu dan tidak pernah berhenti belajar untuk mengembangkan berbagai potensi. Hal ini menghajatkan perhatian dari orang tua untuk terus belajar dan belajar, untuk terus mencari ilmu, mengikuti pendidikan dan pelatihan, agar mampu mengoptimalkan potensi kebaikan sebagai ayah dan sebagai ibu.

    Sayangnya, anak-anak lahir sebagai sebuah ketentuan takdir. Tidak bisa memilih orang tua yang melahirkannya, tidak bisa memilih rumah tangga tempat kelahiran serta tumbuh kembangnya. Tidak seperti memilih sekolah, dimana orang tua dan anak bisa bersama-sama memilih. Tatkala anak lahir, dia berada dalam sebuah “keharusan” untuk menerima orang tua yang melahirkan dan kemudian mendidiknya. Ia tidak bisa memilih dilahirkan oleh ayah dan ibu seperti apa.

    Andai saja anak bisa memilih, mereka bisa bertanya kepada setiap pasangan suami isteri, apakah mereka rajin mengikuti pelatihan dan pendidikan untuk peningkatan kualitas diri ? Seberapa sering suami dan isteri itu mengikuti program up-grade untuk meningkatkan kapasitas sebagai orang tua dalam mendidik anak-anak ? Tidak, anak-anak kita tidak bisa bertanya sebelum lahir, dan tidak bisa melakukan studi banding untuk menentukan pilihan pasangan mana yang akan menjadi orang tuanya.

    Mereka terlahir di dunia, dan begitu bisa melihat, mereka menemukan seorang ibu dan seorang ayah yang mendampingi hari-harinya. Tanpa bisa memilih tipe orang tua ideal sesuai harapannya.

    Karena anak-anak tidak bisa memilih orang tua yang melahirkan dan mendidiknya, maka sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang tua untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas diri. Ayah harus meningkatkan kemampuannya agar bisa menjadi ayah yang baik dan tangguh dalam mendidik serta membersamai tumbuh kembang anak. Ibu harus selalu meningkat kapasitas dan potensinya agar bisa menjadi ibu yang baik dan tangguh dalam membina serta mengarahkan anak-anak.

    Maka, ayo terus belajar, ayo terus mendidik diri, ayo terus meningkatkan kualitas dan kapasitas sebagai orang tua. Insyaallah kita bisa.

  • sumber : Cahyadi Takariyawan, “andai anak bisa memilih orang tua”

One response to “Anaku Mau Disekolahkan dimana ya mba?

  1. bagi gw ya shob ngasih saran.dmn aja sekolahx yg pnting anakx minat.klo anakx gak minat biarpun skolh di sekolah paporet tau pun pesantren tetap aja dia senang gk belajar soalx bukan di kemauan.x n apa bila di sekolah di skolh yg dia mau tp gak belajar itu bkn slh kt.kt udh ngabulin maux dia n dia yg bertnggung jwb sndiri atas ke mau.n x

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s