empati

Sebelum aku tahu bedanya simpati dan empati, kalo ada orang yang curhat dan nangis, aku juga seringnya ikutan nangis…aku fikir itu karena rasa empatiku, he…he…ternyata ketika aku ikutan menagis itu baru simpati yah…

Simpati adalah memposisikan diri ikut merasakan seperti apa yang dirasakan oleh teman kita. Semantara empati adalah sikap memposisikan diri kita dalam keadaan yang sama…jika kita yang mengalami peristiwa itu..
Membingungkan?he…he…sama dongūüė¶.

yuk kita baca pelan pelan yah,

Tidak semua orang mempunyai sikap empati dan bisa ber empati dengan orang lain. ¬†Empati perlu dilatih dan dikembangkan. Apa yang bisa kita lakukan untuk melatih empati diri kita?, kalo simpati boleh jadi faktor emosional bisa masuk tuh…iyya kalo yang curhat orangnya nagis nagis, nah kalo yang curhat itu marah marah?he…he…kalo kita simpati kita jadi ikutan marah tuh…

kalo empati kita menempatkan diri pada posisi dia, sehingga kita bisa mengerti benar posisi dia, tetapi kita tidak larut dalam problematikannya.jadi kalo mau di bikin strata, sikap empati itu sedikit di atas sikap simpati.

susah ya?

pasti susah, makanya empati itu perlu di latih…bagaimana caranya?¬† Ustad Lili Nur Aulia memberikan beberapa tips untuk melatih kita bersikap empati, antara lain :

1. ¬†Tanamkan dalam pikiran kita bahwa hidup ini kadang diatas kadang dibawah. ¬†Tidak ada perjalanan yang tidak berliku, tidak ada perjalanan yang tidak menikung. life is never flat…orang bilang. Kita harus bisa mensikapi ini secara dewasa.

2.  Masalah yang muncul dalam kehidupan kita, kadang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Mau tidak mau, setuju tidak setuju..kita harus hadapi. Dan itu diperlukan cara berpikir orang dewasa.

3. ¬†Biasakan menghadapi masalah dengan tenang dan sabar. ¬†Percayalah Allah SWT tidak akan membiarkan umatnya dalam keteromabing-ambingan masalah ataupun peristiwa. ¬†Selalu ada rahasia di balik setiap masalah atau peristiwa yang menimpa kita. Jadi…bersikaplah menjadi orang sabar….sabar bukan berarti menyerah, tetapi tetap melakukan segala upaya namun hasilnya kita pasrahkan kepada Allah SWT.

4. ¬†Belajar lebih banyak mendengar ketika ada teman kita bercerita. Posisikan diri kita sebagai teman kita, Jika kita dalam posisi yang sama…apa yang kita rasakan. ¬†Jika anda bisa memposisikan diri seperti itu, anda akan lebih banyak mendengar dan merasakan apa yang dia rasakan, juga mengerti dengan sikap yang dia lakukan pada saat itu.

5.  Jika teman kita meminta nasehat..berilah beberapa alternatif dengan komunikasi yang baik.  Karena tidak semua saran-saran kita akan bisa dilaksanakan atau disetujui oleh teman kita. Latihkan untuk ber demokrasi, bicaralah dari hati ke hati.

6.  Selalu jaga komunikasi, agar tetap terjalin silaturahmi yang baik.

Tidak semua orang bisa ber empati dengan baik, tetapi bukan berarti tidak bisa kita lakukan. Semua orang pasti bisa, hanya mau atau tidak mau melatih empati kita

sebuah hadiah untuk anda tentang sebuah kisah tabiin, semoga bisa menginspirasi kita untuk bisa bersikap empati, syahdan  ada seorang tabi’in shalih yang bernama Hatim Al Ashamm (Hatim si tuli).

Mengapa ia dijuluki si tuli, padahal pendengarannya normal dan ia bukan seorang tuli. Dikisahkan, suatu hari seorang wanita pernah datang kepada Hatim. Ia bermaksud menanyakan sesuatu kepadanya. Namun ditengah ia mengutarakan pertanyaan, wanita itu tiba-tiba buang angin (kentut) sehingga membuatnya ia sangat malu. Hatim tahu apa yang berada di balik perasaan tamunya. Dia tidak ingin tamunya bertambah malu karena pendengarannya. Karena itu mencoba menutupinya dengan mengatakan, ‚Äėkeraskan suaramu‚Äô. Ia berkata demikian karena berpura-pura tuli. Akibatnya, wanita itu senang dan tidak salah tingkah. Ia mengira Hatim tidak mendengarnya.

Sejak itu, selama wanita itu masih hidup, hampir lima belas tahun, Hatim berpura-pura memiliki pendengaran yang kurang normal. Sehingga tak ada seorangpun bercerita pada wanita tadi bahwa Hasim tidak tuli. Sesudah wanita tersebut meninggal dunia, barulah Hatim menjawab dengan mudah kepada siapapun yang bertanya kepadanya. Tapi, karena sudah terbiasa dengan perkataan itu, dia selalu berkata kepada setiap orang yang bertanya kepadanya, “Bicaralah dengan keras!” itulah sebabnya dia dipanggil Hatim Al Ashamm (Hatim si tuli)

Wallohu alam bi showab, semoga bisa mnginspirasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s