Pernahkah anda berfikir kenapa anda menikahinya?

 

https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR1313_Fj5Ib4MMXdTJA1unlKEugr9kHiymGYkwwS30p2Lg5XRH

Hari ini, ada seorang teman dekatku yang menatap tajam mataku dan berkata ” mba..siap menerima masukkan yah…” katanya serius tapi sambil senyum senyum.

“iya..siap insya Alloh” kataku sambil terus berfikir…jangan jangan mau ngasih masukan beberapa tulisanku…he…he..akhir akhir ini aku sering berfikir, aku terlalu sering menulis, takutnya ada yang salah tulis atau membuat orang orang terdekatku ada yang merasa tersinggung karena tulisanku.tetapi ternyata dugaanku salah,

“eh…gini mba…kemaren aku lihat pemandangan yang nggak lazim, waktu kita jalan jalan pagi bersama itu loh, ” katanya mencoba mengingatkan.

“mba teh nunjuk nunjuk  ke pak johni (suamiku), sambil nyuruh ini nyuruh itu, kasihan atuh pak Johni nya” katanya menambahkan.  Deg, masa sih…kataku spontan…gitu yah…sambil ku coba mengingat kejadian pagi itu.

masukkannya ini memang  membuat aku tertegun sejenak, berfikir kebelakang, yah sepertinya, aku harus mengerem semua tingkah lakuku yang dominan, mungkin dominan terhadap suami, terhadap anak atau bahkan dominan terhadap teman temanku, bahwa aku ini berwatak sanguins koleris adalah sebuah hal yang membuat aku sangat dominan, yang  kerjanya memang doyan ngomong atau mendominasi pembicaraan di tambah suka merintah…wah…sebuah perpaduan watak yang sepertinya kalo aku bayangkan diriku adalah orang yang membosankan ya? am i wright?

hikcs…jadi pingin ketemu suami, mau minta maaf…jangan jangan Beliau tertekan dengan watakku yah…tak sabar hari ini ketemu suami,

Alhamdulillah, sang pangeran tak perlu jauh jauh ku temui karena siang ini beliau mengambil kompensasi , dan seperti terheran heran ketika pulang pulang kucium tangannya dan ku katakan ” Abi, maafin ummi yah…” kataku memasang tampang merajuk plus menyesal, ditambah, air mata yang sudah menggenang di pelupuk mataku.

ada apa mi? tadi guru ngaji ummi emang ngisi tentang apa?tanyanya dengan penuh keheranan, “nggak kok…nggak ngisi apa apa, wong gurunya nggak dateng, lagi ada dinas di luar kota” kataku.

“terus kenapa kok tiba tiba minta maaf gitu?” katanya sambil membelai lembut kerudungku. he…he…beliau tahu, kalo aku titik lemahnya adalah di kepala, se empet apapun hatiku kalo sudah di elus kepalanya ho hoi…runtuh deh semuanya…

“yah…minta maaf  aja, siapa tahu aja abi merasa tertekan dengan tingkah laku ummi, ummi terlalu dominan ya bi? ummi terlalu menyetir abi gitu? kataku memberondong.

“ha..ha…” tawanya membahana, sampai membuat anak kami mengehntikan permainannya.eh yang di tanya malah tertawa, kataku dalam hati.” kenapa gitu?” katanya masih dengan penasarannya.

“ah…enggak bi, tadi ada teman ummi yang bilang kalo ummi terlalu dominan  terhadap abi” takutnya umi sudah membuat abi tertekan, atau ummi takut sudah melampaui batas” kataku sambil tetap memainkan jemarinya.

“Ah…ummi…ada ada saja, kalo ummi selalu mendominasi memang iyya..soalnya ummi sukanya ngomong…terus…tapi abi suka kok…justru kalo ummi  diam,  lemesh tak bertenaga, abi perlu khawatir, jangan jangan ummi sakit” jawabnya sambil tersenyum arif, ” ummi, Abi sayang banget sama ummi tau ” katanya sambil berlalu.

Subhanalloh, di luar hujan deras, di mataku juga sudah mulai mendung, di usia pernikahan kami yang menginjak ke 16 tahun, pernyataan yang sambil lalu ini membuat aku bergetar…

Siapa sih yang tidak menginginkan keluarga yang harmonis? tapi bahtera Rumah tangga pasti mengalami pasang surut, komunikasi, sikap saling menghargai adalah sikap yang harus di kedepankan menerima segala perbedaan yang ada, karena kita bisa jalan mengarungi bahtera rumah tangga justru karena kita bisa menghargai perbedaan yang ada.

Coba kita bayangkan seandainya watak kita semua sama dengan suami, sama sama suka ngomong, sama sama suka memerintah, pasti setiap hari ada keributan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata harmonis memiliki makna pernyataan rasa, aksi, gagasan, dan minat; keselarasan; keserasian. Dalam konteks keluarga, kata harmonis dekat dengan makna keselarasan dan keserasian antara suami, isteri dan seluruh anggota keluarga. Selaras dan serasi, menunjukkan suatu kesamaan tujuan dan cita-cita, walaupun kondisinya tidak selalu sama. Mungkin saja ada hal yang berbeda, namun perbedaan terbingkai dalam keselarasan dan keserasian.

Kapan kita mengatakan pakaian  yang dikenakan seseorang sebagai serasi? Apakah karena warnanya sama? Seorang lelaki muda mengenakan sepatu, celana panjang, hem, dasi, jas dan topi dengan warna yang sama. Warna hitam semua, atau merah semua, atau putih semua, itukah serasi?

Bahkan anda akan sulit menilai penampilan lelaki muda tersebut, apabila semua yang dikenakan memiliki warna yang sama. Justru penampilan dikatakan serasi apabila ada perbedaan, namun beda yang serasi. Misalnya ia mengenakan sepatu berwarna hitam, kaus kaki abu-abu, celana panjang hitam, kemeja warna putih, jas hitam, dasi merah tua, dan peci berwarna hitam. Ada banyak warna yang dikenakan, namun justru itu yang membentuk makna serasi.

Selama 16 tahun bersamanya, terasa banyak sekali perbedaan yang kami alami, tapi Subhanalloh, dengan perbedaan itu justru kami saling melengkapi, aku sanguin kolleris , dan kanan. sementara suamiku adalah orang yang sangat damai dengan lingkungan nya , beliau plegmatis  melankolis dan sangat kiri .  kehidupanku penuh dengan dinamika, spontan dan tidak teratur, sementara suamiku, dengan ke kiriannya menjadi pengontrolku, karena kehidupannya serba teratur, dari beliaulah aku belajar banyak hal tentang keteraturan, dari anggaran sampai  Dream yang harus di bangun dari tahapan tahapan yang kami rencanakan. Tapi  akulah yang mengajarkan keberanian berpendapat kepada anak anak kami, untuk mengemukakan dan merealisasikan ide ide yag sifatnya spontan dan menyenangkan, bersama kami bisa tertawa ceria.entahlah apakah kami bisa di sebut sebagai pasangan Harmonis atau tidak?

Karena salah satu makna keharmonisan adalah keserasian, maka perbedaan justru menjadi salah satu unsur terpenting di dalamnya. Jangan berharap suami dan isteri akan sama dalam semua hal, karena sejak dari awalnya memang tidak sama. Kesamaan mereka terjadi dalam hal yang prinsip, seperti kesamaan visi keluarga, kesamaan tujuan berkeluarga, kesamaan keyakinan hidup.

Dalam konferensi tahunan British Psychological Society 2012, di antara tema yang menjadi pembahasan adalah perbedaan fisiologis dan biologis laki-laki dan perempuan. Para ahli mengupas beberapa perbedaan dalam kemampuan kognitif, misalnya, laki-laki memiliki keterampilan kesadaran spasial lebih baik. Sedangkan perempuan memiliki daya ingat yang lebih kuat untuk benda-benda, serta kefasihan dalam lisan.

Yang menjadi tuntutan dalam kehidupan keluarga adalah saling memahami adanya hal yang berbeda tersebut. Suami dan isteri harus membuka ruang penerimaan, pemahaman dan toleransi yang tinggi dalam jiwa mereka, akan hadirnya realitas perbedaan umum yang tidak bisa dihindarkan. Isteri yang sangat suka ungkapan verbal, dan suami yang kurang suka ungkapan verbal. Isteri yang banyak menggunakan potensi perasaan dalam memandang suatu kejadian, sementara suami lebih banyak menggunakan potensi akal.

Jika perbedaan tersebut dipahami dan diparesiasi secara tepat, tidak akan memunculkan konflik atau pertengkaran yang tidak perlu. Pertengkaran terjadi antara suami dan isteri, karena ada banyak hal berbeda yang ada dalam diri mereka. Jika masing-masing tidak mampu memahami realitas perbedaan ini, yang terjadi adalah peruncingan konflik yang mengarah kepada disharmoni. Boleh saja sesekali waktu bertengkar dan ada konflik, namun harus segera diredam dan diatasi dengan saling pengertian dan saling memahami antara suami dan isteri.

Rasakanlah keharmonisan, justru karena suami dan isteri memiliki banyak perbedaan. Jika semua hal sama, lalu dimana letak kenikmatan hidup berkeluarga?

Sekarang kita jadi tahu ya…kenapa kita menikahinya?

Yah…ternyata karena dia pujaan hati kita berbeda dengan kita, kelebihannya menutupi kekurangan kita, dan kelebihan kita menutupi kekurangannya.

Selamat hari senin, semoga berbahagia dunia dan akhirat.

 

2 responses to “Pernahkah anda berfikir kenapa anda menikahinya?

  1. teh heny, aku jadi ikutan terharu, pinter skali dirimu merangkai kata teguran yang menurutku cukup dirimu saja eh jadi indah jadi cerita, teh maksudku kalo dominannya jangan depan orang lain/ akhwat maksud ga enak aja lihatnya…..he…he , uhibbuki fillah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s