Aku dan tetanggaku

Bertetangga di perkotaan dan dipedesaan itu sangat berbeda, saya yakin andapun merasakan hal yang sama, meski aku belum pernah tinggal di pedesaan  tapi tatkala aku berkunjung ke salah seorang teman kuliahku di kebumen, aku bisa merasakan keramahan penduduk pedesaan yang sangat tulus, rumah masih berkilo kilo meter tapi beberapa penduduk sudah menyapa kami, belum lagi pas kami sudah sampai ke ruah temanku, satu persatu dari rumah yang ada di sekitarnya bertandang ke rumah hanya untuk sekedar menyapa kedatangan kami.

Sekarang setelah aku menikah, akupun tinggal di sebuah komplek, dengan pagar pagar yang sangat tinggi. kami hanya saling bertegur sapa jika kebetulan berpapasan saat mengeluarkan mobil kami.sekedar menyapa dengan senyuman.  Jika kebetulan kami habis bepergian dan kami hendak mengirimkan oleh oleh, maka kami harus menelpon tetangga kami tersebut, jika tidak maka bisa di pastikan akan mengucapkan salam berteriak teriak di depan pagar, tanpa ada yang membukakan pagarnya.

karena jarang berinteraksi maka jarang terjadi konflik diantara kami, paling konflik batin aja kali yah…karena tak pernah bertegur sapa…

aku adalah orang dengan tingkat kebutuhan sosial yang sangat tinggi…selalu berusaha menyapa, tersenyum meski terkadang senyumku tak berbalas.

pagi ini aku menerima kedatangan seorang tetangga, rumahnya sebetulnya tak jauh dari rumahku, dulu kita sempat akrab karena masih dalam satu kegiatan.orangnya unik, meski bukan orang madura, tapi menurutku beberapa tingkah lakunya mirip kaya orang madura..serba brat bret brot. he..he…tentu saja membuat orang orang di sekitarnya terkadang menjadi tersinggung, termasuk aku tentu saja🙂.belakangan aku tahu kenapa ia berkarakter madura ?karena suaminya adalah orang madura.  Kedatangannya pagi ini ke rumahku dalam rangka ingin meminta maaf.apa pasalnya?

Kejadiannya berawal di sore itu, seperti biasa ketika sedang melakukan kegiatan apapun aku sering menaruh hand phone atau bb di dalam tasku, tentu saja kebiasaanku ini terkaang membuat orang orang di sekitarku protes,termasuk suamiku, “Hand phone atau Bag Phone ummi” begitulah kira kira protes mereka.

sore itu  setelah seharian aku kuralang kuriling, sampailah akau di rumah dalam keadaan lelah dan letih, sampai di rumah sambil meletakkan tas, kuambil hp ku, dan hup, sms yang pertama aku baca adalah sms  dari tetanggaku yang menurutku amat sangat menganggu bunyinya begini “Mba..maaf banget, bukunya aku sudah tidak membutuhkan lagi, 3 anak saja sudah membuat kita repot, dan tau nggak suamiku begitu pulang baca buku itu langsung tensinya naik”

Astagfirulloh…ucapku sambil terduduk.huh..ini orang ya..susah susah di carikan buku, eh sudah di pinjamkan diantarkan pula ke rumahnya kok malah begini smsnya. bukannya malah terima kasih.

ku coba refleksi kembli ke kejadian seminggu yll. ketika kami baru pulang pengajian, temanku ini cerita,, wah nanti kayanya setelah si nafi umur 1,5 tahun aku harus siap siap lagi hamil nih…padahal umur sudah 35 tahun, tapi apa boleh buat…keluarga suamiku amat sangat mendambakan cucu laki laki, ada rasa takut juga sebetulnya..kalo nanti aku hamil lagi dan yang keluar anak  perempuan lagi bagaimana ya? katanya sambil berjalan ke rumah kami.

mendengar keluhannya langsung saja muluku ini pinginnya koment, apa lagi seakan akan aku juga punya solusi atas permasalahan tetangga saya tadi jadi langsung saja saya komentar, dengan semangat lagi ” oh…pingin anak laki laki yah…teman saya ada juga loh, yang lagi program, ada bukunya lagi nanti deh saya pinjamkan..kataku mengakhiri perbincangan sore itu karena aku sdh berada di depan pagar di depan rumah…

dan esoknya kebetulan aku ketemu temanku yang lain yang mempunyai buku “memilih jenis kelamin anak melalui diet makanan” aku pinjam saja buku itu dan langsung aku antarkan ke tetanggaku.just like that…niatku berusaha memberikan solusi dari permaslahan yang ada…

eh, nggak tahunya malah bikin masalah, jadi aku sms balik saja “ya sudah bukunya di kembalikan saja kalo nggak mau” kataku tidak ambil pusing.

huh…ternyata niat baik itu tak selalu di sambut baik.bukan cuma itu saja, rupanya mungkin inilah ujianku, masih dengan orang yang sama,  3 hari kemudian aku juga  mengalamai hal yang menurutku aneh, kalo bukan dia yang aneh ya, berarti aku yang aneh ya…

sore itu sambil pulang arisan dia ber cerita ” di rumahku ada tikus loh”, dan secara reflek,  tiba tiba aja aku nyeletuk ” oh gitu? aku tahu loh, buah yang bisa mengusir tikus, nanti ya…kalo pas aku ke sekolah anakku aku petikin”kataku semagat, merasa seperti super hero yang selalu menolong sih enggak, tapi ada kepuasan tersendiri ketika aku bisa mencarikan solusi buat orang orang di sekitarku.tapi..sekali lagi, terkadang magsud baik tak selamanya di tanggapi dengan b aik,  buktinya ketika esok harinya…aku bawakan buah tikus itu kepadanya eh…dianya malah bilang gini : ” oh…buah tikus ya..sorry, tikusnya sudah tidak ada, tikus terakhir kemarin sudah masuk ember, nanti lain kali aja ya…”

sabar….kataku dalam hati, ni orang kayaknya nggak tahu banget ya..di trima dulu apa gimana gitu …tapi astagfirulloh al adzim, jadi teringat taujihku sendiri kepada ibu ibu, bahwa yang namanya ikhlas itu ya..harus kuat menahan gejolak.walhasil buah tikus itu aku simpan saja, alhamdulillah, kalo di rumahku tak ada tikus.

dan sore itu, kesabaranku masih diuji dengan orang yang sama, tiba tiba sore sore dia sms ” mba..buah tikusnya masih ada?ternyata tikusnya masih ada euy”

hemm…mungkin karena kondisiku sangat capek sore itu, jd dengan reflek jari jariku menjawab ” buah tikus, wah aku nggak janji ya…kemaren sudah susah susah aku bawain katanya tikusnya nggak ada ya sudah nggak tahu deh.

habis magrib aku baru nyadar kalo smsku itu ternyata tak lazim aku tulis,he…he…buru buru deh aku sms minta maaf, dan pagi ini, jam masih menunjukkan pukul 6 pagi, si tetangga yang menurutku nyebelin itu bertandang ke rumahku sambil membawakan sarapan pagi untuk kami, meinta maaf atas sikapnya selama ini.

ya Robb…maafkan kesalahanku, orang yang menurutku sangat mengesalkan ternyata mempunyai jiwa yang justru lebih besar dari jiwaku yang selalu menganggapnya menyebalkan.lembutkan hatiku, untuk bisa menerima dia apa adanya…

dan aku fikir, sepertinya aku yang harus banyak memperbaharui niatku, menolong itu bukan karena siapa siapa, dan karena apa apa tapi menolong itu adalah bagian dari dakwahku kepada orang orang di sekitarku, semoga urusanku di akhirat juga di mudahkan Alloh swt .aamiin.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s