“Jika Katakpun Bertasbih kenapa kita justru meniup terompet?”

Menjelang akhir tahun masehi,Ada yang aneh sore ini…dan aku rasa semakin malam akan semakin aneh…meski diluar hujan gerimis, tapi tak ada suara katak, yang ada suara terompet, padahal fenomena yang sering terdengar sesaat setelah hujan adalah suara katak yang saling bersahutan.  Sepertinya aku  harus waspada , karena konon jika di lingkungan anda tidak terdengar suara katak barang seekorpun maka itu adalah  indikasi bahwa lingkungan anda tidak sehat.  karena katak tak akan pernah bisa hidup di lingkungan yang banyak polutannya.

Sambil melihat kondisi di luar sana, kenapa katak katak itu tak bernyanyi seperti biasanya yah? apakah katak itu takut dengan suara terompet? mungkin bukan polusi udara yg menyebabkan katak tak bernyanyi sore ini..tapi polusinya juga polusi suara.huh…mana suara katak katak itu ya..(#edisi rindu.com)

bicara mengenai terompet, agak heran juga, apa hubungannya antara meniup terompet dengan tahun baru?mencoba searching, dan tara…ternyata meniup terompet itu adalah tradisi orang yahudi, mereka biasa meniup terompet (Shofar) dan melakukan instrokpeksi diri menjelang akhir tahun masehi. nanti baca postinganku tentang “SejarahTerompet dan Tahun Baru” ya,

Ruarr biasa banget !!, cengkeraman yahudi dalam kehidupan kita, dari kebutuhan sehari hari sampai ke tatacara mereka beribadahpun sudah kita serap tanpa kita pikir panjang lagi😦 .  lebih mencengangkan adalah tradisi meniup terompet di malam tahun baru juga menyebar hingga ke pelosok negeri.

kembali ke refleksiku sore ini, masih seputar katak,  seprtinya bener yah..jika  katak katak di sekitar rumahku yang sore ini enggan menyanyi,  juga di sebabkan karena suara terompet..brisik mungkin yah..??atau mengundang setan?wallohu alam.

Padahal aku merindukannya, bukankah suara katak itu adalah suara tasbih, karena dengan suaranya itu ia bertasbih kepada Alloh SWT.

Sufyan atsauri  berkata: “Tidak ada sesuatu yang lebih banyak bertasbih kepada Allah dari pada katak”.

Dalam Al-Kamil dari Ikrimah, dari Abdullah bin Abbas –radhiyallahu Anhuma—beliau berkata: “Konon katak menjatuhkan diri ke nyala api karena takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Lalu Allah memberinya pahala berupa dingingnya air dan menjadikan suaranya sebagai bunyi tasbih”.
Dalam kitab Az-Zahir karya Abdullah Al-Qurthubi, diceritakan bahwa Nabi Daud –alayhissalam—berkata: “Sungguh aku akan bertasbih kepada Allah dengan bacaan tasbih yang tidak diucapkan oleh satupun makhluk Allah”.
Seekor katak memanggilnya dari saluran air di rumahnya: “Wahai Daud! Engkau berbangga di hadapan Allah Azza wa jalla dengan tasbihmu. Sesungguhnya selama 70 tahun, lidahku tidak pernah kering dari dzikir kepada Allah. Dan sesungguhnya selama 10 malam aku tidak menginginkan makan dan minum, karena sibuk dengan dua kalimah”.
Nabi Daud bertanya: “Kalimah apa itu?”
Si Katak menjawab:
يَا مُسَبَّحًا بِكُلِّ لِسَانٍ , وَمَذْكُورًا بِكُلِّ مَكَان
 “Wahai dzat yang disucikan oleh setiap lisan, dan diingat di setiap tempat”.
Nabi Daud berkata dalam hati: “Seandainya aku bisa mengucapkan yang lebih dari pada ini”.
Dalam kitab “Su’ab al-Iman” karya Al-Baihaqi dari Anas –radhiyallahu anhu, seseungguhnya Nabi Daud menyangka bahwa tidak ada pujian kepada Allah yang lebih utama dari pada pujiannya. Lalu Allah menurunkan malaikat, sementara ia duduk di mihrabnya, yang di kiri dan kanannya ada sebuah kolam. Malaikat itu berkata: “Wahai Daud! Pahamilah suara katak dan dengarkanlah!”. Si katak ternyata bersuara:
سُبْحَانَك  وَبِحَمْدِك مُنْتَهَى عِلْمِك
 “Maha suci engkau Allah dan dengan memujimu sepanjang habisnya ilmuMu”.
Malaikat itu berkata lagi: “Bagaimana kamu melihat?”. Daud menjawab: “Demi Allah yang telah menjadikanku nabi, seseungguhnya aku tidak pernah memuji Allah dengan kalimat itu”.
Dari Anas radhiyallahu anhu, Rasulullah SAW bersabda:
لَا تَقْتُلُوا الضِّفْدَعَ , فَإِنَّهَا مَرَّتْ بِنَارِ إبْرَاهِيمَ عليه السلام فَحَمَلَتْ فِي أَفْوَاهِهَا الْمَاءَ وَرَشَّتْ بِهِ عَلَى النَّارِ
“Jangan kalian membunuh katak. Karena sesungguhnya ia melintasi api yang membakar nabi Ibrahim, membawa air dengan mulutnya dan memercikannya ke arah api”
 hiks..jadi semakin rindu sama suara katak,ayo dong..mana suaramu…demi Alloh, suaramu jauh lebih indah di banding dengan suara suara terompet yang kata anakku saja “GJ” alias gak jelas
5 menit latter,  Suara adzan magrib  berkumandang dan, sura terompet anak anakpun berhenti, apa yg terjadi kemudian?
Subhanalloh..akhirnya yang di tunggu tunggu terdengar juga, sudah terdengar pemirsa….:D , mereka para katak  sudah mulai dengan tasbihnya, bersyukur atas hujan yang Alloh berikan kepada kita semua,Alhamdulillah…
sedikit refleksi akhir tahun, jika katakpun bertasbih kepada Alloh, malu dong kalo kita justru di penghujung tahun masehi ini justru meniup terompet tanpa makna..yuk, isi hari hari kita menjadi bermakna.
selamat sholat magrib.
Wallahu A’lam
Sumber: Ghada’al Albab, repost from Abu Madih

2 responses to ““Jika Katakpun Bertasbih kenapa kita justru meniup terompet?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s