“Seberapa jauhkah Jarak Syurga Kita?”

Ada satu kebiasaan kami yang sekarang jarang kami lakukan, yaitu mengunjungi masjid masjid di daerah tempat kami tinggal, entahlah,,mungkin karena kesibukan kami berdua.dulu di awal kami mempunyai anak, kami ingin anak kami akan mempunyai kecintaan yang sama seperti kami orang tuanya kepada masjid, sehingga kami sering membawanya jalan dari masjid ke masjid,jika kami melalui suatu daerah maka kami akan mencari mana letak masjid tertua di daerah itu, kemudian kami akan mengunjunginya, sekedar napak tilas dakwah islam di daerah tsb.

kini kami jarang melakukannya, mungkin juga karena kesibukkan kami, atau mungkin juga karena kami telah menemukan masjid tempat kami menggantungkan masa depan kami..:)

kenapa di sebut masa depan? yah..karena Rosululloh saw bersabda :

“tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya pada hari ketika tidak ada tempat berteduh kecuali dibawah naungan-Nya: seorang pemimpin yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, seorang lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah-mereka berjumpa dan berpisah karena Allah, seorang lelaki yang diajak berzina olehseorang wanita bangsawan nan jelita namun ia mengelaknya dan berkata: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah, seseorang yang bersedekah kemudian iamerahasiakannya sampai-sampai tang kirinya tidak mengetahui apa yang telahdiinfaqkan oleh tang kanannya, dan seorang lelaki yang berzikir dalam kesunyian lantas berlinang air matanya”. (HR. Bukhari:660 dan Muslim:1031).

sebagai seorang wanita aku juga meyakini bahwa sebaik baik tempat shholat bagi seorang wanita adalah di dalam rumahnya,

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلاَةُ الْمَرْأَةِ فِى بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى حُجْرَتِهَا وَصَلاَتُهَا فِى مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى بَيْتِهَا

Shalat seorang wanita di rumahnya lebih utama baginya daripada shalatnya di pintu-pintu rumahnya, dan shalat seorang wanita di ruang kecil khusus untuknya lebih utama baginya daripada di bagian lain di rumahnya” (HR. Abu Daud no. 570. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Tetapi, jika aku boleh berpendapat, bukankah Rosululloh  saw, juga bersabda : “Setiap yang ma`ruf adalah shadaqah, dan orang yang menunjukkan jalan kepada kebaikan (akan mendapat pahala) seperti pelakunya” HR. Bukhari, Juz. X/ No. 374 dan Muslim, No. 1005.

Akupun punya mimpi yang sama dengan suamiku, ingin di naungi oleh Alloh saw, kelak di yaumul hisab tat kala Matahari tinggal sejengkal, ya Robb..lindungilah kami yang senantiasa mencintai dan memakmurkan rumahmu”, itu sebabnya meski tak setiap saat seperti belahan jiwaku,sesekali aku pergi sholat di masjid, yah, minimal  aku tak pernah melarang suamiku untuk berlama lama di masjid, untuk memakmurkannya, dan kulihat wajah suamiku terkasih akan bahagia sekali manakal ia sudah berbuat banyak kebajikan untuk memakmurkan masjidnya..aku berharap dengan suportku pada suamiku untuk memakmurkan masjid, aku akan mendapatkan pahala yang sama dengannya,aamiin.

Aku fikir memakmurkan masjid ini bukan hanya tugas para pria saja, tetapi juga bagi kita para wanita juga mempunyai tugas yang sama untuk memakmurkannya..caranya bagaimana? doronglah suami kita, anak anak lelaki kita untuk mencintai masjid..bahkan Rosululloh saw juga bersabda

“jika kalian tahu keutamaan sholat berjamaah di masjid, niscaya kalian akan tetap mendatanginya meskipun dengan merangkak”

hasil survey yang dilakukan salah sebuah lembaga survey, menyebutkan bahwa minat sholat berjamaah di masjid ada di kisaran 12 %.sementara minat sholat berjamaah di masjid padansubuh hari ada di kisara 3 %.

pantaslah jika saat ini israel tenang tenang saja terhadap kondisi umat islam saat ini, karena menurut mereka kondisi umat islam masih belum pantas untuk di takuti, karena jumlah jamaah subuh kita belum sebanyak sholat jumat.

wahai para umahat, ibu ibu sholiha..seberapa sibukkah suami anda?sehingga anda tak tega untuk membangunkannya di pagi hari untuk sholat subuh berjamaah di masjid?apakah suami anda sesibuk umar bin khotob?yang malam malamnya ronda untuk memastikan bahwa tak ada rakyatnya yang kelaparan? atau bahkan suami anda sesibuk Rosululloh,  percikan air wudhumu dengan cinta, bangunkan ia, sadarkan bahwa lebih utama baginya untuk sholat subuh berjamaah di masjid di bandingkan di rumah,

sebuah kisah Indah dari seorang sahabat Abdullah bin ummi maktum semoga menginspirasi anda siang ini,

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah bahwa  ia  menemui Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam seraya berkata:

“Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak memiliki penuntun yang bisa menuntunku ke masjid”. Orang itu meminta keringanan kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam. Maka Rasulullah pun mengizinkannya. Namun kemudian ketika orang itu berpaling, Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam memanggilnya seraya berkata: “Apakah engkau mendengar panggilan untuk shalat?” Dia menjawab: “Ya”. Maka beliau Shalallahu’alaihi wa Sallam bersabda: “Kalau begitu penuhilah!” (HR. Shahih Muslim dalam kitabul Masaajid).

Dalam hadits di atas sangat jelas disebutkan bahwasannya Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam tidak memberikan udzur bagi orang yang buta tersebut, jika ia masih mendengar panggilan adzan.di riwayat yang lain di sebutkan uzur abdullah bin ummi maktum selain karena kebutaan dan tak ada yang menuntun, diantaranya : usianya yang sudah uzur, jauhnya rumahnya dengan nabawi, rumahnya harus melewati semak belukar yang di takutkan ada binatang buas, dsb.tetapi ternyata Rosululloh hanya bertanya masihkan engkau mendengar seruan azan?

dan sejak pertemuan siang itu maka tak ada seorangpun, atau  sesuatu apapun yang bisa menghalangi abdullah bin ummi maktum untuk datang sholat berjamaah di masjid.

bahkan di sebuah riwayat di ceritakan, Suatu ketika Ibnu Ummi Maktum terjatuh saat dalam perjalanan menuju masjid untuk mengikuti sholat subuh berjamaah. Kakinya berdarah. Keesokan harinya seorang pemuda datang membantu dan membimbingnya ke masjid. Berhari-hari pemuda ini terus menolongnya.

Ibnu Ummi Maktum pun merasa heran, lalu kemudian bertanya untuk membalas kebaikannya. “Wahai saudaraku, siapakah gerangan namamu. Izinkan aku mengetahuimu agar aku bisa mendoakanmu kepada Allah.”

Namun rupanya si pemuda tak ingin namanya diketahui dan dirinya didoakan. “Apa untungnya bagi Anda mengetahui namaku dan aku tak mau engkau doakan,” jawab sang pemuda.

Ibnu Ummi Maktum kemudian menjawab “Jika demikian, cukuplah sampai di sini saja engkau membantuku. Aku tak mau engkau menolongku lagi sebab engkau tak mau didoakan,”

Akhirnya pemuda ini mengenalkan diri, “Wahai Ibnu Ummi Maktum, ketahuilah sesungguhnya aku adalah iblis

Lalu mengapa engkau menolongku dan selalu mengantarkanku ke masjid. Bukankah engkau semestinya mencegahku untuk ke masjid?” jawab Ibnu Ummi Maktum heran.

Lalu iblis ini mengungkapkan rahasia atas pertolongannya selama ini. “Wahai Ibnu Ummi Maktum, masih ingatkah engkau beberapa hari yang lalu tatkala engkau hendak ke masjid dan engkau terjatuh? Aku tidak ingin hal itu terulang lagi. Sebab, karena engkau terjatuh, Allah telah mengampuni dosamu yang separuh. Aku takut kalau engkau jatuh lagi Allah akan menghapuskan dosamu yang separuhnya lagi sehingga terhapuslah dosamu seluruhnya. Maka, sia-sialah kami menggodamu selama ini,” jawab iblis.

jika abdullah bin ummi maktum dengan keterbatasannya mempunyai komitmen yang luar biasa terhadap perintah Rosululloh saw untuk senantiasa sholat berjamaah di masjid, bagaimana dengan kita, yang bisa melihat , yang mempunyai kendaraan, bahkan mungkin ada yng punya lebih dari satu, yangjarak rumahnya tak terlalu jauh, tak ada bahaya yang mengancam, masihkah kita berdalih untuk tak sholat berjamaah di masjid?

sementara Alloh swt menjanjikan ajru (balasan) yang luar biasa sekali ,

Shalatnya seorang pria berjamaah pahalanya 25 derajat dibanding sendirian di rumah atau di pasar, yang demikian itu karena jika ia berwudhu dengan sempurna kemudian ia keluar rumah dengan satu tujuan shalat berjamaah di masjid, maka setiap langkahnya mengangkat satu derajat dan diampuni satu dosanya, dan selama ia di majelis shalat tanpa hadats didoakan para malaikat, “Ya Allah, ampunilah ia dan rahmatilah ia”, dan dianggap mengerjakan shalat sepanjang menunggu waktu shalat” (HR Bukhari Muslim)

Oleh karena itu wahai umahat sholihah…kita menginginkan di naungi di yaumul hisab kelak bukan,doronglah para suami kita untuk mencintai masjidnya dan dirikanlah sholat berjamaah di sana, sibakkan selimutnya, ini karena kecintaan anda kepadanya, kenanglah suara bilal…yang melengking memanggil para sahabat  Rosululloh yang terlelap, “Asholatu khoiru minna naum”

wallohu alam bi showab, semoga menginspirasi.

One response to ““Seberapa jauhkah Jarak Syurga Kita?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s