Ijinkan aku membangun Mimpi seperti Mereka

Setiap kita mempunyai statsiun kenangan tentang  masa lalu kita, entah kenangan yang indah, sedih atau bahagia.

dalam kehidupan Rumah tanggapun demikian, lihatlah puisi habibi untuk ainun,

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang. Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada. Aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik. Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku,
Selamat jalan, calon bidadari surgaku ….

B.J. Habibie untuk Ainun

Meski aku baca puisi ini berkali kali, aku selalu meneteskan air mata, begitu dalam cinta Pak habibie kepada istrinya, begitu hebatnya bu ainun, menancapkan statsiun kenangan di dalam benak  pak habibie..

nun di belahan negara lain, aku pun punya sebuah kisah luar biasa tentang sosok umar Tilmistani (mursid am Ihkwanul muslimin mesir), sebuah kisah yang ketika aku membacanya kembalipun air mata ini tak tersa menik kembali,

Pada suatu Ramadhan, Ustaz Umar At-Tilmisani diundang untuk menghadiri pertemuan di Iskandariah. Para pengundang menyiapkan hidangan berbuka puasa untuk beliau, Di antara hidangan tersebut terdapat jus mangga, karena konon jus mangga ini adalah salah satu kegemaran beliau.  ketika  Salah seorang ikhwan menyuguhkan segelas jus mangga kepada beliau, tanpa di duga Beliau meminta maaf sambil mengatakan bahwa beliau tidak dapat menerima dan meminumnya.

Sebagian hadirin ada yang  memperhatikan adanya perubahan pada air muka beliau. Mereka pun bertanya, “Apakah ustaz alergi pada jus mangga. Atauka h jus mangga bisa menganggu kesehatan ustaz?”

“Tidak..”. jawab beliau.

Setelah berbuka, hadirin begitu penasaran mengapa beliau tidak mau meminum jus mangganya. Mereka terus mendesak beliau untuk menjelaskannya.

hingga akhirnya beliaupun bercerita, dengan suara yang bergetar,
“Apabila saya terlambat pulang kerja”, kata beliau, “Al-Marhumah isteri saya selalu menunggu dengan sabar sembari menyiapkan dua gelas jus mangga. Kemudian kami berdua meminumnya bersama-sama. Sekarang, isteri saya sudah wafat. Saya tetap merasa berat untuk meminum jus mangga sendirian. Saya tak bisa meminumnya tanpa dia.”

“Saya”, lanjut beliau, “Selalu memohon kepada Allah agar Ia mempertemukan kami berdua di syurga. Lalu, kami dapat bersama-sama menikmati minuman syurga. Lalu, kami dapat bersama-sama menikmati minuman syurga..”

Subhanallah!

Robb..betapa indah kisah cinta mereka, menembus ruang dan waktu..seperti Cinta Rosululloh kepada bunda Khadijah..tak lekang oleh jaman, meski raga tlah memisahkan cinta mereka,

kini, ijinkan aku membangun mimpi yang sama seperti mereka, meski tak harus dengan puisi, meski tak harus dengan segelas juz mangga, karena aku punya Stasiun kenangan sendiri yang aku bangun untuk kekasihku, satu harapanku ya Robbana, kumpulkan kami kembali di syurga karena rahmatmu, Aamiin..

bandung, 17 januari 2013

3 responses to “Ijinkan aku membangun Mimpi seperti Mereka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s