Benarkah Cinta itu Harus Memiliki ?

Di Era gadget sekarang ini sebetulnya selain dampak positif juga “terpampang nyata” dampak negatif dimana mana.  Teknologi itu ibarat pisau, tergatung siapa yang menggunakannya.

salah satu penyebab era ini sebetulnya adanya “Sosial Media” , orang menjadi lebih mudah mengakses..entah teman lamanya, cinta lamanya atau bahkan orang yang sama sekali baru di kenal.  Tinggal ketik nama yang kita inginkan, dengan sedikit informasi yang kita tahu…jreng…orang yang kita maksud langsung bisa kita temukan.

dan faktanya adalah bahwa sejak adanya sosial media ini maka acara acara reuni di berbagai kalangan menjadi marak.  he..he..tentu saja mempermudah bukan bagi siapa saja yang masih mepunyai obesesi terhadap teman lama atau cinta lamanya?

beberapa tahun yang lalu aku juga kedatangan seorang teman lama, yang menurutku cukup Sholeha, suaminya juga ustad di salah satu daerah. kebetulan dia meminta tolong untuk  dicarikan kos kosan buat anak sulungnya yang kebetulan sekolah di kotaku.

pagi harinya aku antar ke tempat kost kosan yg sebelumnya sudah aku survey, kemudian aku tinggalkan mereka.tak dinyana…ternyata malam harinya sekitar jam 10 malem. anaknya sms  :

“Tante, mamah di rumah tante?”

Gubrak..kaget aku tak aku sms lagi, tapi segera aku telepon, bukan apa apa aku khawatir, ada apa apa maklum orang perantauan pasti beliau tidak faham daerahku.

usut punya usut, ternyata, temanku itu pamit pagi hari ke anaknya akan ke bandara, dengan perkiraan perjalanan hanya sekitar 1,5 jam ke kotanya, saat sore hari ia berharap bisa bertanya tentang keadaan mamanya apakah sudah sampai atau belum, ternyata hp mamanya tak bisa di hubungi, setelah di tanya ke papanya ternyata mamanya belum nyampe ke rumah.

semaleman kami mencari di sekitar kota bandung, melacak taksi, ngurus cctv bandara, dsb.melapor polisi?he..he..di tolak karena belum 1 x 24 jam.

sampai 2 hari kemudian, temanku itu belum ditemukan. telepon tak perah masuk.hasil melaak taksi, di dapat bahwa temanku itu sampai ke pull biss bandara.hasil cctv bandara tak ada jejak sama sekali ada penerbangan dg nama temanku ada.

bingung mencari jalan keluar, alhamdulillah Alloh mengilhamkan ke dalam fikiranku untuk meminta tolong kepada temanku yang ada di salah satu profider untuk melancak,sinyal dengan nomor tertentu dari sebuah tempat.alhamdulillah terlacak..dan mengagetkan sekali karena ternyata ia terbang ke kampung halamannya nun jauh di ujung pulau sumtra.

Suaminya akhirnya memastikan kembali, apakah informasinya falid, jika falid ia segera meluncur untuk menyusul istrinya. Alhamdulillah akhirnya ketemu, meski akhirnya menjadi tidak happy ending, intinya istrinya tak mau pulang kembali ke suaminya, bahkan tak mau menemui suaminya barang sedetikpun, ia malah meminta untuk di ceraikan saja, karena sudah tak ada cinta di hatinya.

beberapa bulan yang lalu, saya mendapat kabar bahwa teman saya tersebut sudah bercerai bahkan sekarang sudah menikah dengan teman lamanya😦.

hiks..jadi sedih membayangkan anak dan suaminya, setahu saya rumah tangga mereka hampir tak ada konflik sebelumnya, teringat seorang sahabat Umar bin Khotob, ketika menjawab pertanyaaan rakyatnya yang ingin menceraikan istrinya karena merasa sudah tak ada cinta lagi, umar justru mengingatkan ” dimana rasa tanggung jawabmu”

Kisah ini ternyata tak aku jumpai  satu atau dua, karena berikutnya aku menemukan berbagai macam versi yang Alloh bentangkan di depan mataku, ada yang baru pemanasan, ada yang baru bermain api ada juga yang ternyata juga akhirnya harus berpisah..dan hampir semuanya di sebabkan karena mudahnya mereka curhat di dinding wall mereka.

Ketika cinta terlarang itu masih ada di dalam hati dan tak bisa di hapuskan, maka yang harus kita kedepankanl adalah rasa tanggung jawab.jangan terprofokatori oleh lagi lagu “bahwa hidup tanpa ci ta bagai taman tak berbunga’  PRETT!!! memangnya cinta itu cuma dg lawan jenis saja, cinta itu dimensinya luas sekali, cinta yang utama adalah Cinta kepada Alloh, karena siapapun yang mencintai Alloh, maka Allohpun akan mencintai kita, bahkan akan mengumumkan kepada seluruh penjuru langit agar mereka penduduk langit mencintai kita karena kita telah mencintai Alloh.

aku lebih setuju bahwa cinta itu tak harus memiliki, sebuah hadiah untuk anda karena sudah membaca tulisan ini, sebuah kisah tentang salman al Farisi dan cintanya tang ternyata kandas…

Tersebutlah Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mu’minah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai pacar. Tetapi sebagai sebuah pilihan untuk menambatkan cinta dan membangun rumah tangga dalam ikatan suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah, pelamaran.

Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang telah dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.

”Subhanallaah. . wal hamdulillaah. .”, girang Abu Darda’ mendengarnya. Keduanya tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abu Darda’ berbicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.”

Abu Darda dan Salman menunggu dengan berdebar-debar. Hingga sang ibu muncul kembali setelah berbincang-bincang dengan puterinya.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Keterusterangan yang di luar kiraan kedua sahabat tersebut. Mengejutkan bahwa sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya. Bayangkan sebuah perasaan campur aduk dimana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah  dan bertemu dengan gelombang kesadaran. Ya, bagaimanapun Salman memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya.

Namun mari kita simak apa reaksi Salman, sahabat yang mulia ini:

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!

 

wallohu alam bi showab, semoga menginspirasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s