Curhat seorang ukhti

Mendengarkan curhat sebetulnya bukanlah kegemaranku, tetapi mungkin ini adalah takdirku, tatkala Alloh memberikan  aku dua buah telinga dan satu mulut, rupanya Alloh memang menginginkan siapa saja yang jumlah telinganya lebih banyak dari jumlah mulutnya untuk lebih banyak mendengarkan dari pada berbicara.

Siang itu aku mendapat telepon dari seorang wanita salah seorang teman murid ngajiku, “Ummi, kapan ummi punya waktu ya..sepertinya saya nggak bisa curhat lewat telepon atau lewat bbm, saya pingin ketemu ummi karena ceritanya panjang ummi..”

alhamdulillah dari telepon siang itu akhirnya kita membuat janji di sebuah rumah makan yang cukup enak untuk tempat kami bertemu dan mengurai benag masalahnya.

dan di suatu pagi menjelang siang, aku kemudian bertemu dengan seorang wanita setengah baya yang ternyata kalau aku taksir usianya tak jauh beda denganku.Usianya mungkin menjelang 40 tahun.wajahnya cantik, kulitnya putih bersih, pancaran mata dan sikapnya sebetulnya menunjukkan kedalaman ilmunya.ehm…aku sempat ragu…he…he…sepertinya beliau ini juga seorang ustadzah…yah. aku fikir Bismillah, mungkin fungsiku di sini bukan sebagai seorang ustazah tetapi di sini aku menempakan diri sebagai teman yang siap mendengarkan apapun keluhannya, hem…jadi lebih kaya fungsi tempat sampah kali ya..:)

sebentar kami berkenalan, rupanya ia adalah seorang ibu dari 3 orang putra dan istri dari seorang karyawan swata terkemuka di Indonesia.profesi utamanya adalah ibu  rumah tangga, pengisi beberapa majelis taklim dan Radio lokal di kota kami.

Masya Alloh…sempurna..melihat profile wajah, profile keluarga, profile pekerjaan, 99 persen semuanya mirip banget denganku. bahkan sampai ke gaya bicara.  aku sampai bergetar…ada apa di balik semua ini, bukankah di dunia ini tak ada yang kebetulan?ada rahasia apa Alloh mengirimnya kepadaku?dan mempunyai masalah seperti apa gerangan beliau?sehingga beliau merasa perlu untuk berkonsultasi dengan orang sepertiku.

Karena banyak kesamaan maka cerita itupun mengalir begitu saja, beliau adalah salah satu produk dari keluarga yang ayah dan ibunya berpisah dengan alasan yang menurutnya sampai dengan hari akhir pun ia tak akan bisa mengungkapkannya karena sang juru kunci dari ceritanya kini telah meninggal  tanpa meninggalkan petunjuk untuk apapun yang berkaitan dengan kehidupannya.  sehingga menurutnya, ada bagian sejarah dirinya yang hilang begitu saja, ia di tinggalkan oleh ayahnya sejak ia beumur 1 tahun.karena menurut cerita ibunya dulu ayahnya tiba tiba mengirimkan surat perceraian yang harus di tanda tangani, meski berjanji akan memberikan nafkah dengan jumalh 10 ribu, tapi sang ayah…jangankan nafkah bahkan sekedar bertanya bagaimana kabar anaknya pun tak pernah.

hicks…sampai disini ya Robb…kenapa jadi aku yang menangis…kenapa jadi aku yang tak kuat mendengarkan ceritanya…apa maksud engkau mengirimkannya padaku duhai Alloh yang maha membolak balikkan hati, kenapa ada dua kejadian yang sama persis di dunia ini?

Sesaat ia terdiam, berusaha menguasai kedaan karena sepertinya kisah sedihnya ini belum seberapa, barangkali ini baru bagian dari prolog kehidupan dan masalah yang ia hadapi.

dan ia pun kembali melanjutkan ceritanya,

hubungannya sedikit membaik dengan ayahnya menjelang proses pernikahannya, yang mau tidak mau ia harus mencari ayah kandung yang akan menjadi wali saat ia akan menikah.

perjumpaan dengan ayahnya, bukanlah kisah yang mengharukan seperti di sinetron, karena pertemuan dengan ayahnya adalah peristiwa yang menurutnya peristiwa tergaring yang ada dalam kehidupannya karena ia tak bisa menagis sedikitpun…hatinya keras membatu, demi melihat tak ada kata maaf dari ayahnya yang telah mencampakkannya begitu saja bersama ibunya terkasih.matanya selalu menatap langsung ayahnya berusaha mencari adakah rona kesedihan disana?tapi tak ada rona itu, menurutnya ayahnya terlalu angkuh untuk meminta maaf atas perlakuannya di masa lalu.

Dan memanggil nama ayahnya bukan dengan panggilan papa, ayah atau bapak adalah balasan yang menurutnya setimpal.  Ya..ia memanggil ayahnya dengan sebutan “Pak Uban” seperti orang orang sekitar memanggilnya.

Dendam itu sudah tidak ada lagi, karena pak Uban kini telah pulang ke haribaan, dan sang ukhti tak pernah berani satu kali pun berdo’a “Robigfirly wali wali dayya warham hummakama Robbayani sogiro” kenapa?karena ia merasa takut jika demikianlah yang terjadi,  bukankah doa itu mempunyai arti “Ya Rabb, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu aku masih kecil”

dan yang terpatri di dalam benaknya adalah bahwa ayahnya tak pernah menyayanginya…ayahnya mencampakkannya bahkan sejak umurnya masih satu tahun…

jika ia berdoa, dan mendoakan orang tuanya maka ia takut bahwa kelak Alloh juga akan menyayangi ayahnya sebagaimana ayahnya menyayangi dirinya di waktu kecil, sementara bukankah ayahnya ketika ia kecil tak pernah menyayanginya…??

Jauh dari di lubuk hatinya ia tahu bahwa ayahnya adalah sosok yang berjasa hingga ia bisa terlahir ke dunia ini…ada rasa sayang dan benci yang datang silih berganti..

hingga kini sang ukhti hanya sanggup berdoa, Allumagfir lil walidina, Allohumarham lil walidina, Alluhumma fa’fuanhu lil walidina.

kegelisahannya kini adalah menemukan saudara seayahnyayang umurnya jauh lebih tua dari dirinya dan menanyakannya apakah sang kakak tahu, setidaknya menurut fersinya, apa penyebab dulu ayahnya meninggalkannya?agar seluruh rangkaian puzle kehidupannya menjadi satu rangkaian yang utuh meski tidak indah. Semangat positif yang saya lihat adalah ia seorang ibu tangguh dengan multy talenta yang ia pergunakan seluruhnya untuk membahagiakan keluarganya, ia berusaha membuat stasiun kenangan bagi anak anaknya, betapa ia, ibunya sangat sangat mencinta anak anaknya dengan segenap jiwa raganya. ia ingin kelak jika anaknya berdoa maka Alloh akan mengabulkan doanya dengan memberikan kasih sayang NYA.

Sore itu kami berpisah…tak ada kata yang aku ucapkan kepadanya, karena sore itu aku benar benar mengfungsikan telingaku dengan baik.

benar kata para psikolog, terkadang kita hanya perlu di dengar.tak perlu ada solusi karena dengan menjadi pendengar yang baik adalah solusi dari kegelisahannya.

walloh hu alam bi showab.thanks God..this experience is wonderfull for me.  Sayangilah anak anak anda karena dengan mengasihinya anda akan dikasih Alloh SWT dan seluruh penduduk langit dan bumi. let make our family happy.

 

 

 

 

 

 

 

One response to “Curhat seorang ukhti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s